Kamis, 09 April 2015

subjek,objek,tujuan pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Proses pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari tujuan pendidikan,objek serta sang pendidik (subjek pendidikan), berhasil atau gagalnya pendidikan sangat ditentukan oleh subjek pendidikan tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan dan berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik kepada objek pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan sejak dahulu sampai sekarang, sehingga pengertian mengajarpun mengalami perkembangan pula. Bahkan, hingga dewasa ini belum ada devinisi yang tepat bagi semua pihak mengenai mengajar itu.
Bagi peserta didik, seorang pendidik merupakan contoh ideal dan teladan yang bisa mengarahkan semua masalah dalam kehidupannya baik berbentuk ucapan maupun tindakan. Teladan juga penting dan paling efektif untuk menyiapkan etika dan mencetak kepribadian seorang peserta didik. Dalam bahasa jawa guru merupakan orang yang digugu lan ditiru.
Jadi, dalam proses belajar-mengajar, pendidik dalam hal ini guru memunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Agar hasil yang direncanakan (tujuan) tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan. Dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan sedikit tentang subjek pendidikan dengan harapan dapat memahami dengan apa yang dimaksud sang pendidik.








1.2  Batasan masalah
Dalam hal ini kami akan membahas:
1.      siapa sajakah subyek- subyek pendidian?
2.      siapa sajakah yang termasuk dalam obyak pendidikan?
3.      dan apa sajakah tujuan pendidikan?
Berdasarkan perspektif al-quran(ayat-ayat yang berkaitan).
1.3  Tujuan penulisan
1.mengetahui subyek-subyek pendidikan, beserta dalil dalam al-quran
2.mengetahui obyek-obyek pendidikan yang tertera dalam al-quran
3.dan mengetahui tujuan pendidikan, dalam al-quran



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Tujuan Pendidikan
1. Surat Al-Fath 29
a.Teks ayat
b.Terjemah
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

c.Tanasub Al-Ayat dan Tanasub Al-surat
            Pada ayat sebelumnya (ayat 28) ,dijelaskan bahwa Allah swt mengutus seseorang rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak.Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa rasul utusan-Nya itu adalah Miuhammad SAW.Oleh sebab itu ayat ini adalah tafsirayat sebelumnya,dan ini yang dimaksud dengan tafsir al-ayat bil-ayat.
            Hubungan surat Al-Fath dengan surat al-Hujurat dapat dijelaskan sebagai berikut[1]:
1.Didalam surat Al-Fath disebutkan perintah memerangi orang-orang kafir sedangkan dalam surat Al-Hujarat disebutkan perintah mengadakan perdamaian anatara golongan muslimin yang bertikai ,dan perintah untuk memerangi kaum muslimin yang berbuat aniaya kepada kaum muslimin lainnya sampai terpelihara kesatuan dan persatuan.
2.Surat Al-Fath ditutup dengan keterangan menegenai sifat-sifat Rasululullahdan para sahabatnya,sedangkan surat Al-Hujurat dimulai dari etika dan akhlak bagaimana seharusnya para sahabat bergaul dengan Nabi saw.
d.Tafsir dengan Pendekatan Kesejarahan
            Surat yang terdiri dari 29 ayat ini dimulai dari surat Al-Fath kemenangan,karena sebagian besar dari ayat-ayat nya menerangkan hal0hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai oleh Nabi Muhammad SAW.dalam peperangan-peperangannya.Surah ini juga merupakan kabar gembira kepada Nabi Muhammad SAW bahwa dia bersama orang-orang mukmin akan memasuki kota Mekkah denngan memperoleh kemenangan yang gemilang.Setahun kemudian kabar gembira yang sekaligus merupakan janji itu terbukti menjadi kenyataan dengan ditaklukkannya kota Mekkah yang secara politis berimplikasi terhadap kemajuan dan kejayaan Islam di masa-masa selanjutnya.Banyaknya orang  masuk Islam secara sporadic sebgaimanadigambarkan dalam surah An-Nashr merupakan fakta sejarah  pasca Fath Mekkah.
            Fath Mekkah bila ditilik dari keseluruhan perjuangan Nabi saw.dalam membentuk dan menata kehidupan umat yang didasarkan kepada ajaran Islam ,merupakan antiklimaks dari kemenangan perjungan bersama-sama dengan para sahabat dan kaum muslimin awal pada umumnya.Sikap As-syida ‘alal kuffar’ keras dan tegas ketika menghadapi orang-orang kafir,benar-benar telah menjadi modal dan spirit jihad bagi mereka untuk memeperoleh kemenangan.
            Untuk memahami tafsir dari Assyidda’ alal-al-kuffar’ perlu memperhatikan dan mengaitkannya dengan proses sejarah Fath Mekkah  .Terjadinya peristiwa itu disemangati oleh keinginan Nabi saw. dan kaum muslimin untuk mempertahankan kesucian Islamdan harga diri umat Islamdari sikap dan perilaku kewenang-wenangan orang-orang kafir Quraisy.Sebelum terjadinya peristiwa itu,antara umat Islam dan orang kafir Quraisy Mekkah telah terjadi kesepakatan politik untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun.
            Tak lama setelah perjanjian itu ,etnik ‘Khuza’ di Mekkah menyatakan bergabung dengan kekuatan politik Nabi Saw.di Madinnah. Sedang etnik Bakar tetap bergabung dengan kekuatan kafir Quraisy.Dua tahun pasca Perjanjian Hudaibiyah,etnik Bakar dan kafir Quraisy menyerbu dan membantai etnik Khuza’..Karena kekuatan tidak berimabang dari etnik Khuza’banyak yang menjadi korban.Lalu,perwakilanmereka menghadap Nabi saw.di Madinah dengna maksud meminta bantuan pasukan.Tetapi beliau tidak laangsung mengabulkan permintaan mereka dan meminta mereka bersabar menunggu timming yang tepat.
            Ketika waktu yang ditunggu-tunggu tiba  Nabi saw.mengirim utusan kepada pemerintahan kafir Quraisy dengan membawa misi perdamaian,melalui tiga penawaran:
1.Orang Quraisy harus membayar ganti rugi terhadap para korban dari etnik Khuza’,atau
2. Orang Quraisy Mekkah harus memutuskan persekutuan mereka dengan etnik Bakar ,atau
3. Orang Quraisy harus menyatakan pembatalan terhadap perjanjian Hudaibiyah.
            Karena orang Quraisy memilih alternative ketiga ,maka tidaka ada lagi pilihan bagi Nabi dan pasukan Islam kecuali harus bersiap-siap berangkat untuk memerangi mereka,karena dengan demikian maka kesepakatan senjata selama 10 tahun sebagai salah satu klausul dalam perjanjian Hudaibiyah ,dengan sendirinya menjadi batal.
            Dalam waktu yang begitu lama,Nabi saw.berhasil mengumpulkan dan mengerahkan 10.000 pasukan tempur bergerak menuju Mekkah.Namun apa yang terjadi sesampainya beliau beserta seluruh peleton di Mekkah?Adalah suatu pemandangan yang sangat mengherankan bagi para dedengkot kafir Quraisy yang menyatakan diri sebagai musuh besar Nabi,sekaligus juga mengagumkan bagi para penulis sejarah.Yaitu,bahwa misi penaklukan itu berlangsung damai tanpa darah setetes pun.Dan yang lebih mengagumkan lagi adalah terjadinya pengampunan masal (amnesti) oleh Nabi kepada orang-orang yang sejak awal perjuangan Islam di Mekkah telah banyak menyakiti dan bahkan selalu berusaha ingin membunuhnya.[2]
            Ruhamma bainahum ,artinya berkasih sayang sesame mereka.Klausa ini menghilangkan kesan dan anggapan dari orang-orang kafir bahwa Nabi dan kaum muslimin tidak memiliki sifat kasih sayang kepada sesame manusia.Sikap assyida’ yang ditampilkan Nabi dan para sahabatnya sama sekali bukan sikap sadis,kejam apalagi brutal tanpa balas kasihan,melainkan keras dan tegas atas dasar etika dan aturan kepada orang-orang yang nyata-nyata telah melanggar kesepakatan bersama dan sudahtidak bisa lagi diselesaikan dengan cara-cara diplomasi.


e.Identitas Umat Modal Kemenangan dalam Perjuangan
1.Asyidda’ ‘ala al kuffar.Keberhasilan perjuangan umat Islam awal ditopang oleh sikap tegas terhadap orang-orang kafir yang telah berani mrnginjak-nginjak kemurnian Islam dan harg diri umat Islam.Namun,tidak berarti sikap ini menegasi cara-cara dan upaya-upaya perdamaian.Sikap ini adalah solusi terakhir ketika berbagai pendekatan dan upaya-upaya diplomasi sudah mengalami deadlock .Sejarah Islam periode Nabi dan Khulafaur rasyidin menjadi saksi bahwa semua peperangan dan semua penaklukan-penaklukan wilayah sebuah negara non Islam,selalu dimulai dari sikap defensive umat Islam dalam rangka membela diri dan menjaga kesucian Islam.
2.Ruhama’bainahum.Sikap kasih sayang yang ditunjukkan kepada Nabi saw.dan para pengikutnya pada masa-masa awal,tidak saja ditujukan kepada sesame muslim,melainkan juga dapat dirasakan oleh orang-orang kafir akomodatif yang tidak menunjukkan sikap permusuhan terhadap Islam.Nabi saw.tidak pernah bersikap kasar kepada mereka,baik sebelum maupun sesudah beliau menjadi kepala pemerintahan Madinah.Kesatuan,Persatuan,dan kebersamaan sebagai cermin sikap saling berkasih sayang antara sesama  warga Madinah yang majemuk,semakin diperkokoh oleh naskah perjanjian bersama “Piagam Madinah”.Dapat ditegaskan ,bahwa kemajuan umat Islam awal diangun atas dasar sikap kasih sayang tidak hanya ditujukkan kepada sesame muslim ,melainkan juga telah dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial dan agama.
3.Tarahum rukka’an sujjadan.Kata rukka’an dan sujjadan adalah isim fail bentuk kalimat yang mengandung arti sangat (shighat al-mubalaghah) .Jadi rukka’an dan sujjadan artinya banyak ruku’ dan banyak sujud (salat),baik dalam arti salat ritual maupun salat sosial.Ini menunjukkan bahwa salah satu factor kemajuan dan kejayaan Islam dan umatnya pada masa-masa awal adalah karena mereka kuat pendekatan vertikalnya kepada Allah.Dan karena itu,Nabi dan para sahabatnya selalu mendapatkan pertolongan Allah pada setiap mereka mengalami kesulitan atau kebuntuan dalam menghadapi suatu persoalan.Kemenangan pasukan muslimin yang jumlahnya sedikit pada peristiwa peperangan di lembah Badar merupakan salah satu contohnya.
4.Yabtaghuna Fadhlan min Allah min Allah wa Ridlwana.Sikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir ,sikap berkasih sayang kepada sesame,dan banyak ruku’ dan sujud tersebut,mereka melakukan semata-mata ingin memeperoleh karunia dan keridaan Allah swt.Mereka menempatkan karunia dan keridaan  sebagai cita-cita luhur dan tujuan utama dalam setiap gerak perjuangan nya.Dari sini juga dapat dispesifikan bahwa idealism dan keikhlasan dalam berjuang menegakkan Islam merupakan kata kunci sukses.Idealisme tanpa keikhlasan hanya akan melahirkan perjuangan yang pamrih dan kerdil,yang perjuangannya terputus ditengah jalan sebagai akibat dari tarik-menariknya berbagai kepentingan.Sebaliknya,ikhlas tanpa dorongan idealism yang kuat dan jelas,jalannya perjuangan sering tidak jelas arahnya.
Melihat dan menyimak empat modal dasar perjuangan Islam tersebut diatas,problem kekinian tentang setiap perjuangan umat Islam untuk menegakkan Islam selalu kandas,sesudah dapat terjawab.Pertama,karena umat Islam dewasa ini sudah banyak yang kehilangan identitas dan harga diri dihadapan orang-orang kafir.Bahkan dalam persoalan politik dan ekonomi,misalnya,banyak negara-negara muslim yang menggantungkan kebijakan dan nasibnya kepada negara-negara kafir yang nyata-nyata akan menghancurkan Islam.
            Kedua ,karena dari sebagaian besar umat Islam sudah tercerabut akar-akar rasa kasih sayang,baik antar sesama muslim sendiri maupun antar sesame manusia.Karena itu,umat Islam sulit dipersatukan utuk menjadi kekuatan politik,baik di tingkat local maupun global.
Ketiga,sebetulnya,kekuatan Islam itu terletak pada ajaran salat..Jika umat Islam sudah berhasil ‘menegakkan’ salat dalam arti dan substansi yang sesungguhnya ,maka umat Islam akan muncul sebagai komunitas yang tidak lagi menjadi objek,tetapi subyek kemajuan peradaban sebagai salah satu implementasi dari peran khalifatullah fil ardli.
Denagn penerapan ajaran dalam salat, umat Islam akan termotivasi ingin menguasai ilmu teknologi sebagai perangkat ilmu khalifah.Adanya ketentuan waktu-waktu salat , arah kiblat,dan keharusan menutup aurat dalam pelaksanaanya,sekuarang-kurangnya harus mendorong umat Islam untuk menguasai tiga cabang ilmu penegetahuan,yaitu ilmu astronomi atau falak,ilmu geografi (ilmu tata letak dan iklim bumi) dan teknologi tekstil.Dengan demikian juga,dengan penerapan ajaran salat berjamaah,umat Islam akan muncul sebagai kekuatan ekonomi dan politik.
f.kesimpulan
Konsepsi tentang Tujuan pendidikan di suatu negara atau suatu komunitas ditentukan dan diarahkan oleh pandangan dan falsfah hidup negara bersangkutan.Tujuan pendidikan adalah sesuatu yang dicita-citakan atau diwujudkan dari usaha dan proses pendidikan .Pendidikan sendiri mengandung arti usaha sistematis dan terprogram yang dilakukan par pendidik terhadap para terdidik agar mereka menjadi generasi terpelajar dan terdidik sejalan dengan pandangan dan falsafah hidup tadi.Tujuan pendidikan di Indonesia adalah mewujudkan manusia yang beriman bertakwa,dan sekaligus berilmu pengetahuan dan berketerampilan.[3]Sedang tujuan pendidikan dalam Islam identik dengan tujuan hidup dan perjuangan.
            Tujuan hidup dalam Islam ada dua bagian.yaitu:
1)      Tujuan Akhir,yakni memperoleh karunia dan keridaan Allah,dan
2)      Tujuan Antara,yakni beribadah kepada AllahSwt.




2. Surrah Al-Hajj ayat 41
a.Teks ayat
b.Terjemah
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
c.Tafsir Ijmali
Ayat 41 Al-Hajj diatas menjelaskan ayat sebelumnya tentang kelompok orang yang akan memperoleh pertolongan Allah SWT.Selain orang-orang mukmin yang berperang melawan kezaliman orang-orang kafir dengan tujuan mempertahankan agama Allah,dijelaskan bahwa orang-orang yang akan memperoleh pertolongan Allah adalah (1) orang-orang yang mendirikan salat,(2) orang-orang yang menunaikan zakat,(3) orang-orang yang menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
Dalam Adz-Dzariat ayat 56 dijelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah beribadah keoada Allah.Ibadah dalam arti luas ialah segenap gerak hidup,baik gerak hati,gerak lidah,gerak pikiran,maupun gerak anggota badan lainnya,ditujukan untuk meraih keridaan Allah.Dalam ayat diatas dijelaskan tentang pokok-pokok beribadah kepada Allah,dimana seluruh gerak kehidupan muslim hendaknya terpolakan oleh keempat aspek ibadah tersebut.Salat dan zakat sebagai resepsentasi dari pola ibadah khusus untuk menjaga dan memelihara hubungan manusia dengan Penciptanya.Sedang amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai pola ibadah umum untuk menjaga hubungan manusia dengan sesama manusia yang kemudian diejwantahkan dalam ketentuan-ketentuan hukum mu’amalah,jinayah,dan siyasah.

2.2.Subjek Pendidikan
Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan. Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah dalam lingkup rumah tangga (orang tua). Subjek pendidikan sangat berpengaruh sekali kepada keberhasilan atau gagalnya tentang pendidikan, disebabkan banyak hal yang melatarbelakangi sipendidik.
1.Surah Ar-Rahman 1-4
a.Teks ayat
b.Terjemah
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al Qur'an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.”
c.Analisis Kebahasaan (Tahlil Al-Lughawiy)
      Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama bahasa tentang derivasi (isytiqaq) lafadz ini.Sebagian ulama mengatakan bahwa kata tersenut tidak berasal dari kata lain (ghaer musytaq) ,dengan alasn bahwa kata tersebut adalahsebuah nama khas bagi Allah swt.Andaikata pula kata tersebut adalah kata musytaq  ,maka kata itu dipergunakan bersama objeknya,seperti pengggunaan kata rahimun dalam rahimum bi’ibadaihi. ()[4]
      Sedang jumhur ulama berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata rahmat ,yakni Dzat yang memiliki rahmat dan tak ada bandingannya dalam memeberi rahmat.
“Dia(Al-Rahman) Yang telah mengajarkan Al Qur'an.”
Ada musafir yang mengatakan kepada Jibril as.Ada yang berpendapat bahwa Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada Muhammad .Kedua pendapat itu benar,karena pertama-tama Al-Qur’an ditrima oleh malaikat Jibril ,untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad saw .Kemudian secara berangsur-angsur selama 23 tahun Al-Qur’an itu diajarkan oleh Nabi kepada para sahabatnya ,hingga akhirnya sampailah kepada kita .Jadi,Dia-lah ssungguhnya sumber segala ilmu sebagai isi dari ‘allama.
Hal ini akan lebih jelas apabila memperhatikan ayat berikutnya ‘allamahuul bayan’  .Dari potensi al-bayan  itulah manusia dapat menegembangkan ilmu pengetahuan.
      Dalam Al-Qur’an kata ini diteemukan terulang sebanyak 65 kali.Dari ke-65 kali tersebut bersama kaitan konstektualnya dengan keseluruhan teks-teks ayat,dapat ditemukan makna yang khas dari apa yang disebut al-insaniyah  ,berbeda maknanya dengan kata al-basyar  dan  al-lins  yang keduanya dipergunakan Al-Qur’an untuk menunjuk arti leksikal manusia.Al-insan ,al-basyar,dan al-ins, baik dalam kamus-kamus maupun dalam kitab-kitab ,makna ketiganya sering disinonomkan.
      Dari keseluruhan kontekstualisasinya dengan teks-teks ayat,kata al-insan menunjukkan kepada makna al-insaniyah  yang tidak hanya terbatas pada kenyataan spesifik fisik yang suka makan,minum,berkembang biak,dan jalan-jalan di pasar.Tetapi lebih daripada itu,ia sampai pada tingkat yang membuatnya pantas menjadi khalifah di muka bumimenerima beban taklif dan amanat kemanusiaan .Karena Dia-lah makhluk yang dibekali ilmu ,al-bayan,al-‘aql ,dan al-tamyiz. Berbeda dengan kata al-basyar  ,nilai kemanusiaannya lebih kepada pengertian fisik dan biologis.Dalam Al-Qur’an kata itu terulang 35 kali.25 kali diantaranya diterangkan kemanusiaan para Nabi dan rasul ,dan 13 kali mengungkapkan keserupaan mereka dengan orang-orang kafir dalam hal kemanusiaan dengan sifat-sifatnya yang material.[5]
Al-Hasan berpendapat,al-bayan ialah al-manthiq (pembicaraan).Mujtahid dan Qatadah menafsirkannya dengan al-khair (kebaikan) dan al-syarr (keburukan).
Dalam konteks ayat ini,al-bayan dikaitkan dengan  Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. Yang berbahasa Arab.Bahkan dalam  Al-Qur’an kata ini ditemukan terulang sebanyak 3 kali yang ketiganya dikaitkan dengan Al-Qur’an yang diturunkan kepada seorang Nabi yang ummi dari bangsa Arab.Selain dalam surah Ar-Rahman diatas,kata al-bayan didapat dalam surah Al-Qiyamah ayat 19 dan dalam syrah Ali Imran ayat 138 sebagai berikut.
“Maka,Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.(Al-Qiyamah:19)
“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”(Ali Imran:138)
Akar kata Ba Ya Na dengan segala bentuk derivasinya menunjukan pengertian ”menjelaskan”, “menerangkan”,dan “mengungkapkan”.Al-Qur’an sendiri disebut kitab yang menjelaskan () dan ayat-ayatnya pun disebut al-baniyyat yang berarti hujjah yang jelas dan pasti,jelaslah bahwa al-bayan itu sekedar berbicara mnejelaskan,menerangkan dan menungkapkan.Apalagi selain dikaitkan dengan Al-Qur’an dalam ayat ini al-bayan juga dikaitkan dengan al-insan.Ini semakin memperjelas bahwa hanya manusia lah yang memiliki potensi al-bayan.Jka iaberarti hanya sekedar mengeluarkan suara,tentu binatang pun mampu melakukannya dan tidak perlu dikaitkan dengan manusia.Dengan demikian makna factor yang menjadi penentu kemanusiaan manusia  bukan terletak kemampuan berbicaranya melainkan pada kemampuan menjelaskan,menerangkan dan mengungkapkan dari apa yang disimbolkannya melalui bahasa.Dari kemampuan berbahasa inilah dimulainya proses peradaban manusia dengan  mengembangkan ilmu pengetahuan ,berbagai keterampilan da teknologi.
d.Analisis Tarbawi (tahlil al-tarbawiy)
Term-term Qur’ani yang terdapat pada surahAr-Rahman 1-4 yang menjadi turunan untuk konsepsi pendidikan adalah:
1)      ‘allama,term yang dijadikan turunan untuk konsep pendidikan itu sendiri
2)      Ar-Rahman ,term yang menunjuk kepada subyek pendidikan
3)      Al-Insan ,term yang selain menunjuk kepada subyek dan obyek pendidkan
4)      Al-Qur’an ,sebagai dasar dan sekaligus isi pendidikan.

Yang mula-mula melakukan proses ta’lim al-Qur’an adalah ar-Rahman kepada Nabi Muhammad saw .melalui Malk Jibril yang  berperan sebgai penerjemah Al-Qur’an dari Kmlamullah yang qadim menjadi Kalamullah dengan menggunakan symbol-simbol kemakhlukan seperti huruf-huruf yang kemudian menyusun lafal-lafal dan kalimat berbahasa Arab.Setelah Nabi saw.menerima [engajaran dari Allah,secara estafet dan berkesinambungan beliau mengajarkannya kepada para sahabatnya,dan melalui lidah para sahabat,tabi’in,dan para ulama ,sampailah pengajaran Al-Qur’an itu kepada seluruh manusia.
Beberapa aspek tarbawi yang dapat ditangkap dari isyarat ayat-ayat tersebut ialah:
1)      Seorang pendidik harus memiliki sifat kasih sayang terhadap anak didiknya selayaknya mereka menyayangi anaknya sendiri.
2)      Pendidikan sebagai pengembangan potensi memanusiakan manusia semestinya dilaksanakan atas dasar sifat kasih sayang yang pada hakikatnya adalah refleksi dari sifat Ar-Rahman.
3)      Al-Qur’an ,baik ia sebagai sumber dan dasar pendidikan,maupun sebagai isi atau materi pendidikan ,sarat dengan isyarat-isyarat ilmiah yang apabila manusia mampu menggunakan potensi al-bayan,ia akan mengenali dirinya dan pada ujung-ujungnya ia akan menegnal Tuhan Penciptanya.
4)      Manusia adalah makhluk yamg memiliki potensi al-bayan,yang dengan kemampuan bahasanya ia dapat menjelaskan ,menerangkan,dan mengungkapkan segala fenomena alam dan kehidupan baik yang abstrak maupun yang konkret.Oleh karenanya ,bahasa merupakan salah satu alat untuk mentransformasikan ilu sebagai bagian dari proses pendidikan.

2.Surah Al-Nahl  43-44
a.Teks Ayat
b.Terjemah
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu laki-laki yang kami beri wahyu, maka bertanyalah kalian kepada ahl dzikr, apabila kalian tidak menegetahui, dengan membawa keterangan-keterangan dan kitab-kitab. Dan telah kami turunkan Al-Kitab kepada (Muhammad), agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah kami turunkan kepada mereka, dan agar mereka berfikir.”
c. Tafsir ahl al-Dzikr.
Dalam tafsir Departemen Agama, ahl al dzikr ditafsirkan dengan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan kitab-kitab.[6]Penulis tidak membatasi kepada pengtahuan tntang nabi-nabi, melainkan meliputi detail-detail Al-Qur’an dan Islam secara keseluruhannya.Orang-orang yang memiliki pengetahuan tersebut adalah Rasulullah dan para ulama dari berbagai kurun.Penafsiran ini nampaknya relevan dengan tafsir al-dzikir pada ayat berikutnya ,bahwa yang dimaksudkannya adalah Al-Qur’an itu sendiri.Itu pula sebabnya ,Al-Qur’an dinamai juga Al-Dzikr.
d.Penjelasan
Allah swt tidak mengutus para Rasul kecuali mereka dari jenis kelamin laki-laki dan mereka dibekali dengan mu’jizat dan kitab-kitab suci.Dalam ayat ini Allah swt.tidak sedang menjelaskan perbedaan jenis kelamin manusia atau menempatkan posisi yang berbeda anatar laki-laki dan perempuan.Yang sedang dijelaskan-Nya adalah fakta bahwa kenyataannya manusia yang dipilih menjadi rasul adalah golongan laki-laki.Dengan demikian maka apabila fakta menunjukkan tidak seorang pun yang menjadi Nabi ,tidak harus diasumsikan bahwa permpuan posisinya setingkat lebih rendah dari kaum laki-laki.Yang menjadikan mulia tidaknya,terhormat tidaknya manusia tidak ditentukan karena perbedaan jenis kelamin atau status sosial,melainkan karena ketakwaannya kepada Allah swt.Laki-perempuan,kaya-miskin,pejabat-rakyat,mereka adalah sama dihdapan Allah,dan yang akan menjadikan mulia atau tidaknya seseorang adalah aatqakum (yang paling bertakwa).
”Bertanyalah kalian kepada ahli Al-Qur’an”,secara eksplisit menjelaskan bahwa yang menjadi subjek pendidikan bukan hanya pendidik atau guru,melainkan juga anak didik.Karena itu ayat ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan teori belajar siswa aktif dan metode Tanya jawab dalam proses belajar mengajar.Pada saat guru tengah memberikan bimbingan dan pendidikan kepada siswa,posisi siswa adalah obyek,tetapi pada saat yang sama ,ia juga  berperan  sebagai subjek.Sebab tugas guru tidak hanya menyampaikan bahan-bahan ajar kepada siswa,tetapi ia juga bertanggung jawab untuk sedapat mungkin membangkitkan minat dan motivasi belajar sisa agar mereka dapat melakukan pembelajaran sendiri.
Pada akhir ayat 44 diatas dijelaskan tentang funsi Rasulullah saw.sebagai penjelas (mubayyin) kepada manusia tentang hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an ,baik hukum-hukum yang berhubungan dengan teologis (al-ahkam al-I’tiqadiyyat) ,hukum-hukum yang menyangkut pelaksanaan ibadah praktis (al-ahkam al-amaliyyat), maupun hukum-hukum moral dan etika (al-ahkam al-akhlaqiyah).Hal ini dimaksudkan agar manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan dapat berpikir.Ini mengisyaratkan bahwa siswa perlu memikirkan ,menganalisis,dan bahkan mengkritisi materi pendidikan yang disampaikan guru.Di lain pihak ,dengan ini juga menunjukan bahwa Al-Qur’an selalu mengajak berpikir kepada manusia agar dalam menunaikan kewajiban-kewajiaban agama dilaksanakan dengan hati yang mentap karena didukung ilmu yang cukup.

2.3.Obyek pendidikan
1.Surat At-Tahrim ayat 6
a.teksayat

b.terjemah
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”



c.Syarah Ayat
Quanfusakum wa ahlikum nara
Ada empat penafsiran mengenai klausa ini[7]:
a.Menurut al-Tsauri,tafsir klausa itu adalah:

“didiklah dan ajarilah mereka (anggota keluarga).”
b.Menurut Ali bin Abi Thalib

“laksanakanlah taat kepada Allah,jagalah diri kamu sekalian dari perbuatan dosa kepada Allah,dan suruhlah keluargamu agar mereka selalu mengingat Allah.”
c.Mujahid berkata:”Bertakwalah kalian kepada Allah dan suruhlah keluargamu agar mereka juga melakukanhal yang sama denganmu.”
d.Al-Dahlak dan Muqatil berpendapat : “Hak seorang Muslim adalah mengajarkan kepada seluruh anggota keluarga dan kerabatnya tentang kewajiban-kewajiban agama serta larangannya.”


Yang dimaksud al-hijrat ialah al-asnam (berhala yang merekajadikan sembahan).Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah “Adakah batu di neraka itu sama seperti batu di dunia?” “Demi Dzat yang diriku ada ditangan-Nya ,sungguh batu jahanam lebih besar dari semua gunung yang ada didunia!” Jawab Rasulullah.[8] Jawaban Rasulullah saw.ini mensyartakan bahwa dimensi keakhiratan adalah dimensi tersendiri-sebuah dimensi yang tidak dapat di reka-reka panca indra-yang tidak dapat diperbandingkan dengan dimensi keduniaan.Jika kayu bakar neraka adalah manusia dan batu,maka yang dimaksud adalah manusia dan batu dalam dimensi keakhiratan yang sulit dijelaskan melalui pendekatan empiric.Ditinjau dari kacamata ilmu pengetahuan,manusia adalah makhluk kimiawiyang hidupnya ditentukan karena adanya tiga unsure hydrogen,nitrogen,dan oksigen.Tentu saja pendekatan ini tidak dapat digunakan ketika kita akan menjelaskan manusia dalam neraka atau dalam surge sekalipun.Selain itu,makna substantive yang terkandung dibalik ungkapan ayat tersebut dimaksudkan untuk menimbulkan efek rahbat (rasa takut) akan siksaan mereka.

Ghiladzun artinya tanpa belas kasihan.Syidadun artinya keras dan kasar.Kalau ini sebagai ta’kid (penguatan) atas kalausa sebelumnya tentang gambaran keadaan neraka pun ada malaikat penjaga dan pengatur penyiksaan manusia sehingga siapapun yang telah divonis masuk neraka tidak ada peluang sedikit pun untuk meloloskan diri.

d.Pendidikan diri dan Keluarga
Ayat tersebut memberikan penegasan bahwa pendidikan di sekolah tidak mungkin berhasil optimal apabila tidak dimulai dari pendidikan diri dan keluarga.Yang dimaksud dengan pendidikan diri disini adalah pendidikan terhadap pribadi-pribadi yang memikul tagging jawab keluarga.Orang yang pertama bertanggung jawab terhadap keluarga adalah keluarga (ayah dan ibu).Dari kedua orang inilah pendidikan harus dimulai.Keberhasilan pendidikan tingkat paling awal ini akan membawa kepada keberhasilan pendidikan keluarga dan masyarakat.
Fungsi yang paling penting dalam kehidupan keluarga adalah fungsi pendidikannya.Artinya,keluarga merupakan lembaga pendidikan yang apabila berfungsi dengan baik akan mewarnai fungsi-fungsi lainnya dalam kehidupan keluarga.
Dan dalam prakteknya ,hampir dalam setiap fungsi keluarga selalu ada muatan pendidikannya.Contoh,dalam fungsi ekonomi,misalnya,selalu ada norma-norma ekonomi yang harus diajarkan kepada anak bersikap hidup hemat,bagaimana ia rajin menabung,dan seterusnya.
Yang menjadi penekanan dalam ayat tersebut adalah pendidikan ketakwaan kepada Allah.Atau,sering disebut pendidikan agama Islam.Dari dasar ayat inilah kemudian lahir konsepsi tentang ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu non keagamaan.Dalam perkembangan selnjutnya,lahir pula konsep ilmu yang kewajiban mencarinya bersifat ‘ainy dan kifayah.
Sesungguhnya ,ayat 6 Al-Tahrim tersebut tidak sedang menjelaskan dikhotomi ilmu kepada ilmu agama dan ilmu umum.Sebab,yang dapat menyebabkan sesorang takut akan siksaan neraka dan mengamalkan ajaran agama ,tidak semata-mata karena ia menguasai ilmu-ilmu agama,karena ilmu apapun namanya pada hakikatnya bersumber dari Allah yang memiliki sifat al-Alim dan al-Muhith .Oleh sebab itu,diferensiasi ilmu kepada ilmu-ilmu agama dan ilmu –ilmu umum tidak harus menimbulkan pandangan dikhotomis seolah keduanya berbeda dan tidak dapat dipersatukan.
Ada dua factor yang menyebabkan timbulnya pandangan serupa itu,ialah sebagai berikut :
1. Telah terjadi kekeliruan di kalangan sebagian kaum muslimin dalam memahami hadis Nabi saw.yang berbunyi “Kalian lebih mengetahui dengan urusan dunia kalian.” Secara tekstual hadis itu sedang dipahami seolah-olah Islam memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat.Padahal ,apabila hadis tersebut dilacak asbab wurudnya,sama sekali tidak sedang berbicara tentang dikhotomi ilmu,melainkan tengah menjelaskan spesialisasi dalam bidang keilmuan.Ungkapan Nabi itu khusussnya ditujukan kepada penduduk Madinah yang pada umumnya mengetahui hal-ikhwal pertanian mengingat Madinah secara geografis merupakan daerah agraris,daerah yang amat berbeda dengan Mekkah dimana Nabi saw. Dilahirkan dan deibesarkan.Adalah wajar saja apabila Nabi saw.menyatakan ungkapan demikian,karena beliau lahir dan tummbuh dewasa di lingkungan dan daerah yang terkenal gersang dan tandus.
2. Pada kasus Idonesia,pandangan dikhotamis yang berakar pada teks keagamaan (hadis) yang dipahami secara keliru,dalam perkembangan selanjutnya mendapat penguatan pada masa penjajahan Belanda.Dan sejalan dengan paham sekuler yang mereka pegangi selain agar kolonialisasi mereka berjalan mulus,salah satu taktik dan strategi yang mereka lakukan adalah memisahkan secara diametral dari umat Islam urusan agama berikut simbul-simbulnya di satu sisi dengan urursan kenegaraan di sisi lain,yang dari situ berkembang pula kepada persoalan ilmu.Ilmu yang “dianggap” berasal dari tradisi keilmuan Islam disebut imu agama,sedang imu yang dikembangkan Barat yang skuler dinamainya ilmu umum.Sebagai kelanjutannya muncul pula istilah sekolah dan madrasah.

2.Surah Al-Taubah ayat 122
a.Teks ayat
b.Terjemah
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

c.Sebab turun ayat
Ada riwayat yang berasal dari Ikrimah,bahwa orang-orang munafik –dengan nada mencibir-berkata:” Celaka orang-orang kampong yang tidak ikut berperang dengan Muhammad ,padahal kawan-kawan Muhammad yang lain keluar mengajar kepada masyarakat.” Maka turunlah ayat ini.[9]
Memperhatikan latar belakang turunnya ayat tersebut ,bahwa perang dan menyebabkan ilmu sama pentingnya.Mencari maupun mengajarkan imu merupakan bagian dari jihad fi sabilillah.
Menurut Ibnu Kasir, ayat diatas me-nasakh dua ayat sebelumnya,yaitu ayat 41 dan ayat 120 pada surah yang sama.Dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa hukum berperang wajib ‘ainy.Maka dengan turunnya ayat 122 ini kewajiban berperang menjadi hanya wajib ‘kifa’iy.



d.Tafsir al-Mufradat
…. Dalam bahasa Arab,nafara diartikan pergi berperang……tafaqqaha –yatafaqqahu-tfaqquhan,secara bahasa artinya memahami dengan luas dan mendalam.Jadi,tafaqquh fi-al-din mendalami agama.Dengan demikian,pada zaman Nabi yang disebut mutafaqqih atau faqih atau fuqaha ialah orang-orang yang ahki dan menguasai persoalan-persoalan agama.Tentu saja saat itu yang paling mutafaqqih adalah Nabi saw.Pada era khulafa al-rasyidin,pengertiannya mengalami penyempitan ,dari asalnya orang yang menguasai persoalan agama,menjadi orang yang menguasai hanya di bidang fatwa hukum yang bersifat amaliah praktis.Disebutlah ahli fatwa sebagai faqih.Kemudian pada perkembangan berikutnya,ketika banyak persoalan hukum amaliah,terutama masalah mu’amalah ,tidak tersedia ketetapan hukumnya secara gambling dan jelas dalam Al-Qur’an maupun Sunnah,maka bermunculan ulama-ulama yang memfokuskan perhatiannya kepada uapaya penggalian hukum dari nash-nash yang sudah ada tersebut.Dalam ilmu Ushul Fiqih ulama yang ahli dan memiliki  
Otoritas intelektual dalam bidang penggalian hukum disebut  mujtahid .Maka sejak itulah arti faqih atau fuqaha menjadi lebih sempit lagi,hanya dikhususkan bagi orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh.

e.Masyarakat Sebagai Obyek Pendidikan
Baik secara bertahap maupun simultan,pendidikan diri dan keluarga harus pula dibarengi dengan pendidikan masyarakat.Hal ini menjadi sangat penting karena pendidikan sendiri diarahkan untuk mencerdaskan masyarakat sebagai sarana penting dalam pembangunan masyarakat dan negara bangsa.Yang dapat ditangkap dari manthuq ayat diatas,bahwa yang dimaksud masyarakat adalah masyarakat dengan latar belakang agama tertentu,dalam hal ini Islam.Ini dapat dipahami dalam klausa qoumahum,yang berarti kaum mereka.Diperkuat lagi dengan klusa fi al-din,yang menunjukkan arti khusus agama Islam.
Masyarakat muslim ialah kumpulan orang yang terdiri dari individu-individu muslim yang secara sosiologis Islam terbagi menjadi dua kelompok besar,yaitu ulama fuqaha dalam arti luas,dan oran-orang awwam.Ulama atau fuqaha inilah yang berkewajiban menyebarkan dan memasyaratkan ajaran Islam kepada masyarakat dalam kelompok kedua tadi.Ayat 122 di atas menunjukkan betapa pentingnya pendidikan Islam kepada masyarakat ,sehingga Nabi saw.sendiri “seolah-olah” melarang kaum muslimin ikut berperang semuanya.Tetapi harus ada sebagian dari mereka yang memfokuskan perhatiannya pada usaha mendalami ilmu penegetahuan khususnya ilmu-ilmu agana Islam.Apabila pendidikan pada masa Nabi saw.sudah demikian pentingnya,maka terlebih di masa sekarang yang kepemelukan kaum muslimin kepada Islam lebih karena factor keturunan,bukan karena motivasi pilihan melalui proses pencarian yang betul-betul dilatarbelakangi oleh kebutuhan terhadap agama,sehingga sangat wajar apabila kemudian banyak orang Islam yang belum memahami dengan benar,apa dan bagaimana ajaran Islam.
           





















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Pendidikan sendiri mengandung arti usaha sistematis dan terprogram yang dilakukan par pendidik terhadap para terdidik agar mereka menjadi generasi terpelajar dan terdidik sejalan dengan pandangan dan falsafah hidup tadi.Tujuan pendidikan di Indonesia adalah mewujudkan manusia yang beriman bertakwa,dan sekaligus berilmu pengetahuan dan berketerampilan.Sedang tujuan pendidikan dalam Islam identik dengan tujuan hidup dan perjuangan.
Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah dalam lingkup rumah tangga (orang tua).















DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai.2002.Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam.Jakarta: Ciputat Press
Gojali,Nanang.2004.Pendidikan dan Sains.Jakarta : PT,Rineka Cipta
Langgulung, Hasan.1992.Asas-Asas Pendidikan Aslam.Jakarta: Pustaka al-Husna






[1] Departemen Agama,Al-Qur’an dan terjemahannya
[2] K.Ali,Sejarah Islam Pasca Modern,(Jakarta :Risalah Gusti,1996),h.200.
[3] Sudijarto,Memanfaatkan Sistem Pendidikan Nasional,(Jakarta:Rasindo,1993),h.74
[4] Abd.Mu’in Salim,Tafsir Surat Al-Fatihah,Makasar:IAIN Alaudin,1996,h,12
[5] Bint al-Syahti,opcit,h.7
[6] Ddepartemen Agama RI,Tafsir dan Terjemahannya,(Jakarta:Depag RI,1984).h,408
[7] Al-Maraghy,Tafsir al-Maraghy.Jilid X,h.129.
[8] Jalaludinal-Suyuhty,Al-Durr al-Mantsur,Jilid XII,h.201.
[9] Ibnu Katsir,op cit,h.231.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar