BAB I
PENDAHULUAN
Proses pendidikan dalam kehidupan manusia
tidak terlepas dari tujuan pendidikan,objek serta sang pendidik (subjek
pendidikan), berhasil atau gagalnya pendidikan sangat ditentukan oleh subjek
pendidikan tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai
kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan dan berbagai syarat yang
harus dipenuhi oleh seorang pendidik kepada objek pendidikan untuk mencapai
tujuan pendidikan.
Masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan
sejak dahulu sampai sekarang, sehingga pengertian mengajarpun mengalami
perkembangan pula. Bahkan, hingga dewasa ini belum ada devinisi yang tepat bagi
semua pihak mengenai mengajar itu.
Bagi peserta didik, seorang pendidik merupakan contoh ideal
dan teladan yang bisa mengarahkan semua masalah dalam kehidupannya baik
berbentuk ucapan maupun tindakan. Teladan juga penting dan paling efektif untuk
menyiapkan etika dan mencetak kepribadian seorang peserta didik. Dalam bahasa
jawa guru merupakan orang yang digugu lan ditiru.
Jadi, dalam proses belajar-mengajar, pendidik dalam hal ini
guru memunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar
bagi siswa untuk mencapai tujuan. Agar hasil yang direncanakan (tujuan)
tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek
pendidikan. Dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan sedikit tentang
subjek pendidikan dengan harapan dapat memahami dengan apa yang dimaksud sang
pendidik.
1.2 Batasan masalah
Dalam
hal ini kami akan membahas:
1. siapa
sajakah subyek- subyek pendidian?
2. siapa
sajakah yang termasuk dalam obyak pendidikan?
3. dan
apa sajakah tujuan pendidikan?
Berdasarkan
perspektif al-quran(ayat-ayat yang berkaitan).
1.3 Tujuan penulisan
1.mengetahui subyek-subyek
pendidikan, beserta dalil dalam al-quran
2.mengetahui obyek-obyek pendidikan
yang tertera dalam al-quran
3.dan mengetahui tujuan pendidikan,
dalam al-quran
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Tujuan Pendidikan
1.
Surat Al-Fath 29
a.Teks ayat

b.Terjemah
“Muhammad itu adalah utusan Allah
dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang
kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud
mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan
tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia
dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di
antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”
c.Tanasub Al-Ayat dan Tanasub
Al-surat
Pada ayat sebelumnya (ayat 28)
,dijelaskan bahwa Allah swt mengutus seseorang rasul-Nya dengan membawa
petunjuk dan agama yang hak.Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa rasul
utusan-Nya itu adalah Miuhammad SAW.Oleh sebab itu ayat ini adalah tafsirayat
sebelumnya,dan ini yang dimaksud dengan tafsir
al-ayat bil-ayat.
Hubungan surat Al-Fath dengan surat
al-Hujurat dapat dijelaskan sebagai berikut[1]:
1.Didalam
surat Al-Fath disebutkan perintah
memerangi orang-orang kafir sedangkan dalam surat Al-Hujarat disebutkan perintah mengadakan perdamaian anatara
golongan muslimin yang bertikai ,dan perintah untuk memerangi kaum muslimin
yang berbuat aniaya kepada kaum muslimin lainnya sampai terpelihara kesatuan
dan persatuan.
2.Surat
Al-Fath ditutup dengan keterangan
menegenai sifat-sifat Rasululullahdan para sahabatnya,sedangkan surat Al-Hujurat dimulai dari etika dan akhlak
bagaimana seharusnya para sahabat bergaul dengan Nabi saw.
d.Tafsir dengan Pendekatan
Kesejarahan
Surat yang terdiri dari 29 ayat ini
dimulai dari surat Al-Fath
kemenangan,karena sebagian besar dari ayat-ayat nya menerangkan hal0hal yang
berhubungan dengan kemenangan yang dicapai oleh Nabi Muhammad SAW.dalam
peperangan-peperangannya.Surah ini juga merupakan kabar gembira kepada Nabi
Muhammad SAW bahwa dia bersama orang-orang mukmin akan memasuki kota Mekkah
denngan memperoleh kemenangan yang gemilang.Setahun kemudian kabar gembira yang
sekaligus merupakan janji itu terbukti menjadi kenyataan dengan ditaklukkannya
kota Mekkah yang secara politis berimplikasi terhadap kemajuan dan kejayaan
Islam di masa-masa selanjutnya.Banyaknya orang
masuk Islam secara sporadic sebgaimanadigambarkan dalam surah An-Nashr merupakan fakta sejarah pasca Fath
Mekkah.
Fath
Mekkah bila ditilik dari keseluruhan perjuangan Nabi saw.dalam membentuk dan
menata kehidupan umat yang didasarkan kepada ajaran Islam ,merupakan
antiklimaks dari kemenangan perjungan bersama-sama dengan para sahabat dan kaum
muslimin awal pada umumnya.Sikap As-syida
‘alal kuffar’ keras dan tegas ketika menghadapi orang-orang
kafir,benar-benar telah menjadi modal dan spirit jihad bagi mereka untuk
memeperoleh kemenangan.
Untuk memahami tafsir dari Assyidda’ alal-al-kuffar’ perlu
memperhatikan dan mengaitkannya dengan proses sejarah Fath Mekkah .Terjadinya
peristiwa itu disemangati oleh keinginan Nabi saw. dan kaum muslimin untuk
mempertahankan kesucian Islamdan harga diri umat Islamdari sikap dan perilaku
kewenang-wenangan orang-orang kafir Quraisy.Sebelum terjadinya peristiwa
itu,antara umat Islam dan orang kafir Quraisy Mekkah telah terjadi kesepakatan
politik untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun.
Tak lama setelah perjanjian itu
,etnik ‘Khuza’ di Mekkah menyatakan
bergabung dengan kekuatan politik Nabi Saw.di Madinnah. Sedang etnik Bakar tetap bergabung dengan kekuatan
kafir Quraisy.Dua tahun pasca Perjanjian Hudaibiyah,etnik Bakar dan kafir Quraisy menyerbu dan membantai etnik Khuza’..Karena kekuatan tidak berimabang
dari etnik Khuza’banyak yang menjadi
korban.Lalu,perwakilanmereka menghadap Nabi saw.di Madinah dengna maksud
meminta bantuan pasukan.Tetapi beliau tidak laangsung mengabulkan permintaan
mereka dan meminta mereka bersabar menunggu timming
yang tepat.
Ketika waktu yang ditunggu-tunggu
tiba Nabi saw.mengirim utusan kepada
pemerintahan kafir Quraisy dengan membawa misi perdamaian,melalui tiga
penawaran:
1.Orang
Quraisy harus membayar ganti rugi terhadap para korban dari etnik Khuza’,atau
2.
Orang Quraisy Mekkah harus memutuskan persekutuan mereka dengan etnik Bakar ,atau
3.
Orang Quraisy harus menyatakan pembatalan terhadap perjanjian Hudaibiyah.
Karena orang Quraisy memilih
alternative ketiga ,maka tidaka ada lagi pilihan bagi Nabi dan pasukan Islam
kecuali harus bersiap-siap berangkat untuk memerangi mereka,karena dengan
demikian maka kesepakatan senjata selama 10 tahun sebagai salah satu klausul
dalam perjanjian Hudaibiyah ,dengan sendirinya menjadi batal.
Dalam waktu yang begitu lama,Nabi
saw.berhasil mengumpulkan dan mengerahkan 10.000 pasukan tempur bergerak menuju
Mekkah.Namun apa yang terjadi sesampainya beliau beserta seluruh peleton di
Mekkah?Adalah suatu pemandangan yang sangat mengherankan bagi para dedengkot kafir Quraisy yang menyatakan
diri sebagai musuh besar Nabi,sekaligus juga mengagumkan bagi para penulis
sejarah.Yaitu,bahwa misi penaklukan itu berlangsung damai tanpa darah setetes
pun.Dan yang lebih mengagumkan lagi adalah terjadinya pengampunan masal
(amnesti) oleh Nabi kepada orang-orang yang sejak awal perjuangan Islam di
Mekkah telah banyak menyakiti dan bahkan selalu berusaha ingin membunuhnya.[2]
Ruhamma
bainahum ,artinya berkasih sayang sesame mereka.Klausa ini menghilangkan
kesan dan anggapan dari orang-orang kafir bahwa Nabi dan kaum muslimin tidak
memiliki sifat kasih sayang kepada sesame manusia.Sikap assyida’ yang ditampilkan Nabi dan para sahabatnya sama sekali
bukan sikap sadis,kejam apalagi brutal tanpa balas kasihan,melainkan keras dan
tegas atas dasar etika dan aturan kepada orang-orang yang nyata-nyata telah
melanggar kesepakatan bersama dan sudahtidak bisa lagi diselesaikan dengan
cara-cara diplomasi.
e.Identitas Umat Modal Kemenangan
dalam Perjuangan
1.Asyidda’
‘ala al kuffar.Keberhasilan perjuangan umat Islam awal
ditopang oleh sikap tegas terhadap orang-orang kafir yang telah berani
mrnginjak-nginjak kemurnian Islam dan harg diri umat Islam.Namun,tidak berarti
sikap ini menegasi cara-cara dan upaya-upaya perdamaian.Sikap ini adalah solusi
terakhir ketika berbagai pendekatan dan upaya-upaya diplomasi sudah mengalami deadlock .Sejarah Islam periode Nabi dan
Khulafaur rasyidin menjadi saksi
bahwa semua peperangan dan semua penaklukan-penaklukan wilayah sebuah negara
non Islam,selalu dimulai dari sikap defensive
umat Islam dalam rangka membela diri dan menjaga kesucian Islam.
2.Ruhama’bainahum.Sikap
kasih sayang yang ditunjukkan kepada Nabi saw.dan para pengikutnya pada
masa-masa awal,tidak saja ditujukan kepada sesame muslim,melainkan juga dapat
dirasakan oleh orang-orang kafir akomodatif yang tidak menunjukkan sikap
permusuhan terhadap Islam.Nabi saw.tidak pernah bersikap kasar kepada
mereka,baik sebelum maupun sesudah beliau menjadi kepala pemerintahan
Madinah.Kesatuan,Persatuan,dan kebersamaan sebagai cermin sikap saling berkasih
sayang antara sesama warga Madinah yang
majemuk,semakin diperkokoh oleh naskah perjanjian bersama “Piagam
Madinah”.Dapat ditegaskan ,bahwa kemajuan umat Islam awal diangun atas dasar
sikap kasih sayang tidak hanya ditujukkan kepada sesame muslim ,melainkan juga
telah dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar
belakang sosial dan agama.
3.Tarahum
rukka’an sujjadan.Kata rukka’an dan sujjadan
adalah isim fail bentuk kalimat yang
mengandung arti sangat (shighat al-mubalaghah)
.Jadi rukka’an dan sujjadan artinya banyak ruku’ dan banyak
sujud (salat),baik dalam arti salat ritual maupun salat sosial.Ini menunjukkan
bahwa salah satu factor kemajuan dan kejayaan Islam dan umatnya pada masa-masa
awal adalah karena mereka kuat pendekatan vertikalnya kepada Allah.Dan karena
itu,Nabi dan para sahabatnya selalu mendapatkan pertolongan Allah pada setiap
mereka mengalami kesulitan atau kebuntuan dalam menghadapi suatu
persoalan.Kemenangan pasukan muslimin yang jumlahnya sedikit pada peristiwa
peperangan di lembah Badar merupakan salah satu contohnya.
4.Yabtaghuna
Fadhlan min Allah min Allah wa Ridlwana.Sikap keras dan
tegas terhadap orang-orang kafir ,sikap berkasih sayang kepada sesame,dan
banyak ruku’ dan sujud tersebut,mereka melakukan semata-mata ingin memeperoleh
karunia dan keridaan Allah swt.Mereka menempatkan karunia dan keridaan sebagai cita-cita luhur dan tujuan utama
dalam setiap gerak perjuangan nya.Dari sini juga dapat dispesifikan bahwa
idealism dan keikhlasan dalam berjuang menegakkan Islam merupakan kata kunci
sukses.Idealisme tanpa keikhlasan hanya akan melahirkan perjuangan yang pamrih
dan kerdil,yang perjuangannya terputus ditengah jalan sebagai akibat dari
tarik-menariknya berbagai kepentingan.Sebaliknya,ikhlas tanpa dorongan idealism
yang kuat dan jelas,jalannya perjuangan sering tidak jelas arahnya.
Melihat
dan menyimak empat modal dasar perjuangan Islam tersebut diatas,problem
kekinian tentang setiap perjuangan umat Islam untuk menegakkan Islam selalu
kandas,sesudah dapat terjawab.Pertama,karena
umat Islam dewasa ini sudah banyak yang kehilangan identitas dan harga diri
dihadapan orang-orang kafir.Bahkan dalam persoalan politik dan
ekonomi,misalnya,banyak negara-negara muslim yang menggantungkan kebijakan dan
nasibnya kepada negara-negara kafir yang nyata-nyata akan menghancurkan Islam.
Kedua
,karena dari sebagaian besar umat Islam sudah tercerabut akar-akar rasa
kasih sayang,baik antar sesama muslim sendiri maupun antar sesame
manusia.Karena itu,umat Islam sulit dipersatukan utuk menjadi kekuatan
politik,baik di tingkat local maupun global.
Ketiga,sebetulnya,kekuatan
Islam itu terletak pada ajaran salat..Jika umat Islam sudah berhasil
‘menegakkan’ salat dalam arti dan substansi yang sesungguhnya ,maka umat Islam
akan muncul sebagai komunitas yang tidak lagi menjadi objek,tetapi subyek
kemajuan peradaban sebagai salah satu implementasi dari peran khalifatullah fil ardli.
Denagn
penerapan ajaran dalam salat, umat Islam akan termotivasi ingin menguasai ilmu
teknologi sebagai perangkat ilmu khalifah.Adanya
ketentuan waktu-waktu salat , arah kiblat,dan keharusan menutup aurat dalam
pelaksanaanya,sekuarang-kurangnya harus mendorong umat Islam untuk menguasai
tiga cabang ilmu penegetahuan,yaitu ilmu astronomi atau falak,ilmu geografi
(ilmu tata letak dan iklim bumi) dan teknologi tekstil.Dengan demikian
juga,dengan penerapan ajaran salat berjamaah,umat Islam akan muncul sebagai
kekuatan ekonomi dan politik.
f.kesimpulan
Konsepsi
tentang Tujuan pendidikan di suatu negara atau suatu komunitas ditentukan dan
diarahkan oleh pandangan dan falsfah hidup negara bersangkutan.Tujuan
pendidikan adalah sesuatu yang dicita-citakan atau diwujudkan dari usaha dan
proses pendidikan .Pendidikan sendiri mengandung arti usaha sistematis dan terprogram
yang dilakukan par pendidik terhadap para terdidik agar mereka menjadi generasi
terpelajar dan terdidik sejalan dengan pandangan dan falsafah hidup tadi.Tujuan
pendidikan di Indonesia adalah mewujudkan manusia yang beriman bertakwa,dan
sekaligus berilmu pengetahuan dan berketerampilan.[3]Sedang
tujuan pendidikan dalam Islam identik dengan tujuan hidup dan perjuangan.
Tujuan hidup dalam Islam ada dua
bagian.yaitu:
1) Tujuan
Akhir,yakni memperoleh karunia dan keridaan Allah,dan
2) Tujuan Antara,yakni
beribadah kepada AllahSwt.
2. Surrah Al-Hajj ayat 41
a.Teks
ayat

b.Terjemah
“(yaitu) orang-orang
yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka
mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala
urusan.”
c.Tafsir Ijmali
Ayat
41 Al-Hajj diatas menjelaskan ayat
sebelumnya tentang kelompok orang yang akan memperoleh pertolongan Allah
SWT.Selain orang-orang mukmin yang berperang melawan kezaliman orang-orang
kafir dengan tujuan mempertahankan agama Allah,dijelaskan bahwa orang-orang
yang akan memperoleh pertolongan Allah adalah (1) orang-orang yang mendirikan
salat,(2) orang-orang yang menunaikan zakat,(3) orang-orang yang menyuruh yang
ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
Dalam
Adz-Dzariat ayat 56 dijelaskan bahwa
tujuan penciptaan manusia dan jin adalah beribadah keoada Allah.Ibadah dalam
arti luas ialah segenap gerak hidup,baik gerak hati,gerak lidah,gerak
pikiran,maupun gerak anggota badan lainnya,ditujukan untuk meraih keridaan
Allah.Dalam ayat diatas dijelaskan tentang pokok-pokok beribadah kepada
Allah,dimana seluruh gerak kehidupan muslim hendaknya terpolakan oleh keempat
aspek ibadah tersebut.Salat dan zakat sebagai resepsentasi dari pola ibadah
khusus untuk menjaga dan memelihara hubungan manusia dengan Penciptanya.Sedang amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai pola ibadah umum untuk menjaga hubungan manusia
dengan sesama manusia yang kemudian diejwantahkan dalam ketentuan-ketentuan
hukum mu’amalah,jinayah,dan siyasah.
2.2.Subjek Pendidikan
Subjek
pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam
memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan
dapat dipahami oleh objek pendidikan. Subjek pendidikan yang dipahami
kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal
(disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan
pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah dalam
lingkup rumah tangga (orang tua). Subjek pendidikan sangat berpengaruh sekali
kepada keberhasilan atau gagalnya tentang pendidikan, disebabkan banyak hal
yang melatarbelakangi sipendidik.
1.Surah Ar-Rahman 1-4
a.Teks ayat
b.Terjemah
“(Tuhan) Yang Maha
Pemurah. Yang
telah mengajarkan Al Qur'an. Dia
menciptakan manusia. Mengajarnya
pandai berbicara.”
c.Analisis Kebahasaan (Tahlil Al-Lughawiy)

Terjadi perbedaan pendapat dikalangan
ulama bahasa tentang derivasi (isytiqaq)
lafadz ini.Sebagian ulama mengatakan bahwa kata tersenut tidak berasal dari
kata lain (ghaer musytaq) ,dengan
alasn bahwa kata tersebut adalahsebuah nama khas bagi Allah swt.Andaikata pula
kata tersebut adalah kata musytaq ,maka kata itu dipergunakan bersama
objeknya,seperti pengggunaan kata rahimun
dalam rahimum bi’ibadaihi. ()[4]
Sedang jumhur ulama berpendapat bahwa kata
tersebut berasal dari kata rahmat ,yakni
Dzat yang memiliki rahmat dan tak ada bandingannya dalam memeberi rahmat.

“Dia(Al-Rahman) Yang telah
mengajarkan Al Qur'an.”
Ada
musafir yang mengatakan kepada Jibril
as.Ada yang berpendapat bahwa Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada Muhammad
.Kedua pendapat itu benar,karena pertama-tama Al-Qur’an ditrima oleh malaikat
Jibril ,untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad saw .Kemudian secara berangsur-angsur
selama 23 tahun Al-Qur’an itu diajarkan oleh Nabi kepada para sahabatnya
,hingga akhirnya sampailah kepada kita .Jadi,Dia-lah ssungguhnya sumber segala
ilmu sebagai isi dari ‘allama.
Hal
ini akan lebih jelas apabila memperhatikan ayat berikutnya ‘allamahuul bayan’ .Dari potensi al-bayan itulah manusia
dapat menegembangkan ilmu pengetahuan.

Dalam Al-Qur’an kata ini diteemukan
terulang sebanyak 65 kali.Dari ke-65 kali tersebut bersama kaitan
konstektualnya dengan keseluruhan teks-teks ayat,dapat ditemukan makna yang
khas dari apa yang disebut al-insaniyah ,berbeda maknanya dengan kata al-basyar dan al-lins
yang keduanya dipergunakan Al-Qur’an untuk menunjuk arti leksikal
manusia.Al-insan ,al-basyar,dan al-ins, baik dalam kamus-kamus maupun dalam
kitab-kitab ,makna ketiganya sering disinonomkan.
Dari keseluruhan kontekstualisasinya
dengan teks-teks ayat,kata al-insan
menunjukkan kepada makna al-insaniyah yang tidak hanya terbatas pada kenyataan
spesifik fisik yang suka makan,minum,berkembang biak,dan jalan-jalan di
pasar.Tetapi lebih daripada itu,ia sampai pada tingkat yang membuatnya pantas
menjadi khalifah di muka bumimenerima beban taklif dan amanat kemanusiaan
.Karena Dia-lah makhluk yang dibekali ilmu
,al-bayan,al-‘aql ,dan al-tamyiz. Berbeda dengan kata al-basyar ,nilai
kemanusiaannya lebih kepada pengertian fisik dan biologis.Dalam Al-Qur’an kata
itu terulang 35 kali.25 kali diantaranya diterangkan kemanusiaan para Nabi dan
rasul ,dan 13 kali mengungkapkan keserupaan mereka dengan orang-orang kafir
dalam hal kemanusiaan dengan sifat-sifatnya yang material.[5]
Al-Hasan
berpendapat,al-bayan ialah al-manthiq (pembicaraan).Mujtahid
dan Qatadah menafsirkannya dengan al-khair
(kebaikan) dan al-syarr
(keburukan).
Dalam
konteks ayat ini,al-bayan dikaitkan
dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi
Muhammad saw. Yang berbahasa Arab.Bahkan dalam
Al-Qur’an kata ini ditemukan terulang sebanyak 3 kali yang ketiganya
dikaitkan dengan Al-Qur’an yang diturunkan kepada seorang Nabi yang ummi dari bangsa Arab.Selain dalam surah
Ar-Rahman diatas,kata al-bayan didapat dalam surah Al-Qiyamah ayat 19 dan dalam
syrah Ali Imran ayat 138 sebagai berikut.
“Maka,Apabila Kami telah selesai
membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan
Kamilah penjelasannya.(Al-Qiyamah:19)
“(Al Qur'an) ini adalah penerangan
bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang
bertakwa.”(Ali Imran:138)
Akar kata Ba
Ya Na dengan segala bentuk derivasinya menunjukan pengertian ”menjelaskan”,
“menerangkan”,dan “mengungkapkan”.Al-Qur’an sendiri disebut kitab yang
menjelaskan () dan ayat-ayatnya pun disebut al-baniyyat
yang berarti hujjah yang jelas dan pasti,jelaslah bahwa al-bayan itu sekedar
berbicara mnejelaskan,menerangkan dan menungkapkan.Apalagi selain dikaitkan
dengan Al-Qur’an dalam ayat ini al-bayan
juga dikaitkan dengan al-insan.Ini
semakin memperjelas bahwa hanya manusia lah yang memiliki potensi al-bayan.Jka iaberarti hanya sekedar
mengeluarkan suara,tentu binatang pun mampu melakukannya dan tidak perlu
dikaitkan dengan manusia.Dengan demikian makna factor yang menjadi penentu
kemanusiaan manusia bukan terletak
kemampuan berbicaranya melainkan pada kemampuan menjelaskan,menerangkan dan mengungkapkan
dari apa yang disimbolkannya melalui bahasa.Dari kemampuan berbahasa inilah
dimulainya proses peradaban manusia dengan
mengembangkan ilmu pengetahuan ,berbagai keterampilan da teknologi.
d.Analisis
Tarbawi (tahlil al-tarbawiy)
Term-term Qur’ani yang terdapat pada surahAr-Rahman
1-4 yang menjadi turunan untuk konsepsi pendidikan adalah:
1) ‘allama,term
yang dijadikan turunan untuk konsep pendidikan itu sendiri
2) Ar-Rahman
,term yang menunjuk kepada subyek pendidikan
3) Al-Insan
,term yang selain menunjuk kepada subyek dan obyek pendidkan
4) Al-Qur’an
,sebagai dasar dan sekaligus isi pendidikan.
Yang mula-mula melakukan proses ta’lim al-Qur’an adalah ar-Rahman kepada
Nabi Muhammad saw .melalui Malk Jibril yang berperan sebgai penerjemah Al-Qur’an dari
Kmlamullah yang qadim menjadi
Kalamullah dengan menggunakan symbol-simbol kemakhlukan seperti huruf-huruf
yang kemudian menyusun lafal-lafal dan kalimat berbahasa Arab.Setelah Nabi
saw.menerima [engajaran dari Allah,secara estafet dan berkesinambungan beliau
mengajarkannya kepada para sahabatnya,dan melalui lidah para
sahabat,tabi’in,dan para ulama ,sampailah pengajaran Al-Qur’an itu kepada
seluruh manusia.
Beberapa aspek tarbawi yang dapat ditangkap dari isyarat ayat-ayat tersebut ialah:
1) Seorang
pendidik harus memiliki sifat kasih sayang terhadap anak didiknya selayaknya
mereka menyayangi anaknya sendiri.
2) Pendidikan
sebagai pengembangan potensi memanusiakan manusia semestinya dilaksanakan atas
dasar sifat kasih sayang yang pada hakikatnya adalah refleksi dari sifat
Ar-Rahman.
3) Al-Qur’an
,baik ia sebagai sumber dan dasar pendidikan,maupun sebagai isi atau materi
pendidikan ,sarat dengan isyarat-isyarat ilmiah yang apabila manusia mampu
menggunakan potensi al-bayan,ia akan
mengenali dirinya dan pada ujung-ujungnya ia akan menegnal Tuhan Penciptanya.
4) Manusia
adalah makhluk yamg memiliki potensi al-bayan,yang dengan kemampuan bahasanya
ia dapat menjelaskan ,menerangkan,dan mengungkapkan segala fenomena alam dan
kehidupan baik yang abstrak maupun yang konkret.Oleh karenanya ,bahasa
merupakan salah satu alat untuk mentransformasikan ilu sebagai bagian dari
proses pendidikan.
2.Surah
Al-Nahl 43-44
a.Teks
Ayat

b.Terjemah
“Dan Kami tidak
mengutus sebelum kamu laki-laki yang kami beri wahyu, maka bertanyalah kalian
kepada ahl dzikr, apabila kalian tidak menegetahui, dengan membawa
keterangan-keterangan dan kitab-kitab. Dan telah kami turunkan Al-Kitab kepada
(Muhammad), agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah kami turunkan
kepada mereka, dan agar mereka berfikir.”
c.
Tafsir ahl al-Dzikr.
Dalam tafsir Departemen Agama, ahl
al dzikr ditafsirkan dengan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan
kitab-kitab.[6]Penulis
tidak membatasi kepada pengtahuan tntang nabi-nabi, melainkan meliputi
detail-detail Al-Qur’an dan Islam secara keseluruhannya.Orang-orang yang
memiliki pengetahuan tersebut adalah Rasulullah dan para ulama dari berbagai
kurun.Penafsiran ini nampaknya relevan dengan tafsir al-dzikir pada ayat
berikutnya ,bahwa yang dimaksudkannya adalah Al-Qur’an itu sendiri.Itu pula
sebabnya ,Al-Qur’an dinamai juga Al-Dzikr.
d.Penjelasan
Allah swt tidak mengutus para Rasul
kecuali mereka dari jenis kelamin laki-laki dan mereka dibekali dengan mu’jizat
dan kitab-kitab suci.Dalam ayat ini Allah swt.tidak sedang menjelaskan
perbedaan jenis kelamin manusia atau menempatkan posisi yang berbeda anatar
laki-laki dan perempuan.Yang sedang dijelaskan-Nya adalah fakta bahwa
kenyataannya manusia yang dipilih menjadi rasul adalah golongan
laki-laki.Dengan demikian maka apabila fakta menunjukkan tidak seorang pun yang
menjadi Nabi ,tidak harus diasumsikan bahwa permpuan posisinya setingkat lebih
rendah dari kaum laki-laki.Yang menjadikan mulia tidaknya,terhormat tidaknya
manusia tidak ditentukan karena perbedaan jenis kelamin atau status
sosial,melainkan karena ketakwaannya kepada Allah
swt.Laki-perempuan,kaya-miskin,pejabat-rakyat,mereka adalah sama dihdapan
Allah,dan yang akan menjadikan mulia atau tidaknya seseorang adalah aatqakum (yang paling bertakwa).
”Bertanyalah kalian kepada ahli
Al-Qur’an”,secara eksplisit menjelaskan bahwa yang menjadi subjek pendidikan
bukan hanya pendidik atau guru,melainkan juga anak didik.Karena itu ayat ini
dapat menjadi dasar bagi pengembangan teori belajar siswa aktif dan metode
Tanya jawab dalam proses belajar mengajar.Pada saat guru tengah memberikan
bimbingan dan pendidikan kepada siswa,posisi siswa adalah obyek,tetapi pada
saat yang sama ,ia juga berperan sebagai subjek.Sebab tugas guru tidak hanya
menyampaikan bahan-bahan ajar kepada siswa,tetapi ia juga bertanggung jawab
untuk sedapat mungkin membangkitkan minat dan motivasi belajar sisa agar mereka
dapat melakukan pembelajaran sendiri.
Pada akhir ayat 44 diatas
dijelaskan tentang funsi Rasulullah saw.sebagai penjelas (mubayyin) kepada manusia tentang hukum-hukum yang terkandung dalam
Al-Qur’an ,baik hukum-hukum yang berhubungan dengan teologis (al-ahkam
al-I’tiqadiyyat) ,hukum-hukum yang menyangkut pelaksanaan ibadah praktis (al-ahkam al-amaliyyat), maupun
hukum-hukum moral dan etika (al-ahkam
al-akhlaqiyah).Hal ini dimaksudkan agar manusia sebagai subyek dan obyek
pendidikan dapat berpikir.Ini mengisyaratkan bahwa siswa perlu memikirkan
,menganalisis,dan bahkan mengkritisi materi pendidikan yang disampaikan guru.Di
lain pihak ,dengan ini juga menunjukan bahwa Al-Qur’an selalu mengajak berpikir
kepada manusia agar dalam menunaikan kewajiban-kewajiaban agama dilaksanakan
dengan hati yang mentap karena didukung ilmu yang cukup.
2.3.Obyek
pendidikan
1.Surat
At-Tahrim
ayat 6
a.teksayat

b.terjemah
“Hai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang
keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
c.Syarah
Ayat
Quanfusakum
wa ahlikum nara
Ada empat penafsiran mengenai klausa ini[7]:
a.Menurut al-Tsauri,tafsir klausa itu adalah:
“didiklah dan
ajarilah mereka (anggota keluarga).”
b.Menurut Ali bin Abi Thalib
“laksanakanlah
taat kepada Allah,jagalah diri kamu sekalian dari perbuatan dosa kepada
Allah,dan suruhlah keluargamu agar mereka selalu mengingat Allah.”
c.Mujahid berkata:”Bertakwalah kalian kepada Allah
dan suruhlah keluargamu agar mereka juga melakukanhal yang sama denganmu.”
d.Al-Dahlak dan Muqatil berpendapat : “Hak seorang
Muslim adalah mengajarkan kepada seluruh anggota keluarga dan kerabatnya
tentang kewajiban-kewajiban agama serta larangannya.”
Yang dimaksud al-hijrat ialah al-asnam
(berhala yang merekajadikan sembahan).Seorang sahabat pernah bertanya kepada
Rasulullah “Adakah batu di neraka itu sama seperti batu di dunia?” “Demi Dzat
yang diriku ada ditangan-Nya ,sungguh batu jahanam lebih besar dari semua
gunung yang ada didunia!” Jawab Rasulullah.[8]
Jawaban Rasulullah saw.ini mensyartakan bahwa dimensi keakhiratan adalah
dimensi tersendiri-sebuah dimensi yang tidak dapat di reka-reka panca
indra-yang tidak dapat diperbandingkan dengan dimensi keduniaan.Jika kayu bakar
neraka adalah manusia dan batu,maka yang dimaksud adalah manusia dan batu dalam
dimensi keakhiratan yang sulit dijelaskan melalui pendekatan empiric.Ditinjau
dari kacamata ilmu pengetahuan,manusia adalah makhluk kimiawiyang hidupnya
ditentukan karena adanya tiga unsure hydrogen,nitrogen,dan oksigen.Tentu saja
pendekatan ini tidak dapat digunakan ketika kita akan menjelaskan manusia dalam
neraka atau dalam surge sekalipun.Selain itu,makna substantive yang terkandung
dibalik ungkapan ayat tersebut dimaksudkan untuk menimbulkan efek rahbat (rasa takut) akan siksaan mereka.
Ghiladzun
artinya tanpa belas kasihan.Syidadun
artinya keras dan kasar.Kalau ini sebagai ta’kid
(penguatan) atas kalausa sebelumnya tentang gambaran keadaan neraka pun ada
malaikat penjaga dan pengatur penyiksaan manusia sehingga siapapun yang telah
divonis masuk neraka tidak ada peluang sedikit pun untuk meloloskan diri.
d.Pendidikan
diri dan Keluarga
Ayat tersebut memberikan penegasan
bahwa pendidikan di sekolah tidak mungkin berhasil optimal apabila tidak
dimulai dari pendidikan diri dan keluarga.Yang dimaksud dengan pendidikan diri
disini adalah pendidikan terhadap pribadi-pribadi yang memikul tagging jawab
keluarga.Orang yang pertama bertanggung jawab terhadap keluarga adalah keluarga
(ayah dan ibu).Dari kedua orang inilah pendidikan harus dimulai.Keberhasilan
pendidikan tingkat paling awal ini akan membawa kepada keberhasilan pendidikan
keluarga dan masyarakat.
Fungsi yang paling penting dalam
kehidupan keluarga adalah fungsi pendidikannya.Artinya,keluarga merupakan
lembaga pendidikan yang apabila berfungsi dengan baik akan mewarnai
fungsi-fungsi lainnya dalam kehidupan keluarga.
Dan dalam prakteknya ,hampir dalam setiap fungsi
keluarga selalu ada muatan pendidikannya.Contoh,dalam fungsi
ekonomi,misalnya,selalu ada norma-norma ekonomi yang harus diajarkan kepada
anak bersikap hidup hemat,bagaimana ia rajin menabung,dan seterusnya.
Yang menjadi penekanan dalam ayat
tersebut adalah pendidikan ketakwaan kepada Allah.Atau,sering disebut
pendidikan agama Islam.Dari dasar ayat inilah kemudian lahir konsepsi tentang
ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu non keagamaan.Dalam perkembangan
selnjutnya,lahir pula konsep ilmu yang kewajiban mencarinya bersifat ‘ainy dan kifayah.
Sesungguhnya ,ayat 6 Al-Tahrim tersebut tidak sedang
menjelaskan dikhotomi ilmu kepada ilmu agama dan ilmu umum.Sebab,yang dapat
menyebabkan sesorang takut akan siksaan neraka dan mengamalkan ajaran agama
,tidak semata-mata karena ia menguasai ilmu-ilmu agama,karena ilmu apapun
namanya pada hakikatnya bersumber dari Allah yang memiliki sifat al-Alim dan al-Muhith .Oleh sebab itu,diferensiasi ilmu kepada ilmu-ilmu agama
dan ilmu –ilmu umum tidak harus menimbulkan pandangan dikhotomis seolah
keduanya berbeda dan tidak dapat dipersatukan.
Ada dua factor yang menyebabkan
timbulnya pandangan serupa itu,ialah sebagai berikut :
1. Telah terjadi kekeliruan di kalangan sebagian
kaum muslimin dalam memahami hadis Nabi saw.yang berbunyi “Kalian lebih mengetahui dengan urusan dunia kalian.” Secara
tekstual hadis itu sedang dipahami seolah-olah Islam memisahkan urusan dunia
dan urusan akhirat.Padahal ,apabila hadis tersebut dilacak asbab wurudnya,sama sekali tidak sedang berbicara tentang dikhotomi
ilmu,melainkan tengah menjelaskan spesialisasi dalam bidang keilmuan.Ungkapan
Nabi itu khusussnya ditujukan kepada penduduk Madinah yang pada umumnya
mengetahui hal-ikhwal pertanian mengingat Madinah secara geografis merupakan
daerah agraris,daerah yang amat berbeda dengan Mekkah dimana Nabi saw.
Dilahirkan dan deibesarkan.Adalah wajar saja apabila Nabi saw.menyatakan
ungkapan demikian,karena beliau lahir dan tummbuh dewasa di lingkungan dan
daerah yang terkenal gersang dan tandus.
2. Pada kasus Idonesia,pandangan dikhotamis yang
berakar pada teks keagamaan (hadis) yang dipahami secara keliru,dalam
perkembangan selanjutnya mendapat penguatan pada masa penjajahan Belanda.Dan
sejalan dengan paham sekuler yang mereka pegangi selain agar kolonialisasi
mereka berjalan mulus,salah satu taktik dan strategi yang mereka lakukan adalah
memisahkan secara diametral dari umat Islam urusan agama berikut
simbul-simbulnya di satu sisi dengan urursan kenegaraan di sisi lain,yang dari
situ berkembang pula kepada persoalan ilmu.Ilmu yang “dianggap” berasal dari
tradisi keilmuan Islam disebut imu agama,sedang imu yang dikembangkan Barat
yang skuler dinamainya ilmu umum.Sebagai kelanjutannya muncul pula istilah
sekolah dan madrasah.
2.Surah
Al-Taubah ayat 122
a.Teks
ayat

b.Terjemah
“Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya.”
c.Sebab
turun ayat
Ada riwayat yang berasal dari
Ikrimah,bahwa orang-orang munafik –dengan nada mencibir-berkata:” Celaka
orang-orang kampong yang tidak ikut berperang dengan Muhammad ,padahal
kawan-kawan Muhammad yang lain keluar mengajar kepada masyarakat.” Maka
turunlah ayat ini.[9]
Memperhatikan latar belakang
turunnya ayat tersebut ,bahwa perang dan menyebabkan ilmu sama
pentingnya.Mencari maupun mengajarkan imu merupakan bagian dari jihad fi sabilillah.
Menurut Ibnu Kasir, ayat diatas
me-nasakh dua ayat sebelumnya,yaitu ayat 41 dan ayat 120 pada surah yang
sama.Dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa hukum berperang wajib ‘ainy.Maka dengan turunnya ayat 122 ini
kewajiban berperang menjadi hanya wajib ‘kifa’iy.
d.Tafsir
al-Mufradat
…. Dalam bahasa Arab,nafara
diartikan pergi berperang……tafaqqaha
–yatafaqqahu-tfaqquhan,secara bahasa artinya memahami dengan luas dan
mendalam.Jadi,tafaqquh fi-al-din mendalami agama.Dengan demikian,pada zaman
Nabi yang disebut mutafaqqih atau faqih atau fuqaha ialah orang-orang yang ahki dan menguasai
persoalan-persoalan agama.Tentu saja saat itu yang paling mutafaqqih adalah
Nabi saw.Pada era khulafa al-rasyidin,pengertiannya
mengalami penyempitan ,dari asalnya orang yang menguasai persoalan
agama,menjadi orang yang menguasai hanya di bidang fatwa hukum yang bersifat
amaliah praktis.Disebutlah ahli fatwa sebagai faqih.Kemudian pada perkembangan berikutnya,ketika banyak persoalan
hukum amaliah,terutama masalah mu’amalah ,tidak tersedia ketetapan hukumnya
secara gambling dan jelas dalam Al-Qur’an maupun Sunnah,maka bermunculan
ulama-ulama yang memfokuskan perhatiannya kepada uapaya penggalian hukum dari
nash-nash yang sudah ada tersebut.Dalam ilmu Ushul Fiqih ulama yang ahli dan
memiliki
Otoritas intelektual dalam bidang penggalian hukum
disebut mujtahid .Maka sejak itulah arti faqih atau fuqaha menjadi
lebih sempit lagi,hanya dikhususkan bagi orang-orang yang ahli dalam bidang
ilmu fiqh.
e.Masyarakat
Sebagai Obyek Pendidikan
Baik secara bertahap maupun
simultan,pendidikan diri dan keluarga harus pula dibarengi dengan pendidikan
masyarakat.Hal ini menjadi sangat penting karena pendidikan sendiri diarahkan
untuk mencerdaskan masyarakat sebagai sarana penting dalam pembangunan
masyarakat dan negara bangsa.Yang dapat ditangkap dari manthuq ayat diatas,bahwa yang dimaksud masyarakat adalah
masyarakat dengan latar belakang agama tertentu,dalam hal ini Islam.Ini dapat
dipahami dalam klausa qoumahum,yang
berarti kaum mereka.Diperkuat lagi dengan klusa fi al-din,yang menunjukkan arti
khusus agama Islam.
Masyarakat muslim ialah kumpulan
orang yang terdiri dari individu-individu muslim yang secara sosiologis Islam
terbagi menjadi dua kelompok besar,yaitu ulama fuqaha dalam arti luas,dan oran-orang awwam.Ulama atau fuqaha
inilah yang berkewajiban menyebarkan dan memasyaratkan ajaran Islam kepada
masyarakat dalam kelompok kedua tadi.Ayat 122 di atas menunjukkan betapa
pentingnya pendidikan Islam kepada masyarakat ,sehingga Nabi saw.sendiri
“seolah-olah” melarang kaum muslimin ikut berperang semuanya.Tetapi harus ada
sebagian dari mereka yang memfokuskan perhatiannya pada usaha mendalami ilmu
penegetahuan khususnya ilmu-ilmu agana Islam.Apabila pendidikan pada masa Nabi
saw.sudah demikian pentingnya,maka terlebih di masa sekarang yang kepemelukan
kaum muslimin kepada Islam lebih karena factor keturunan,bukan karena motivasi
pilihan melalui proses pencarian yang betul-betul dilatarbelakangi oleh
kebutuhan terhadap agama,sehingga sangat wajar apabila kemudian banyak orang
Islam yang belum memahami dengan benar,apa dan bagaimana ajaran Islam.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendidikan
sendiri mengandung arti usaha sistematis dan terprogram yang dilakukan par
pendidik terhadap para terdidik agar mereka menjadi generasi terpelajar dan
terdidik sejalan dengan pandangan dan falsafah hidup tadi.Tujuan pendidikan di
Indonesia adalah mewujudkan manusia yang beriman bertakwa,dan sekaligus berilmu
pengetahuan dan berketerampilan.Sedang tujuan pendidikan dalam Islam identik
dengan tujuan hidup dan perjuangan.
Subjek
pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua,
guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan
masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita
pahami selama ini adalah dalam lingkup rumah tangga (orang tua).
DAFTAR
PUSTAKA
Arief, Armai.2002.Ilmu dan
Metodologi Pendidikan Islam.Jakarta: Ciputat Press
Gojali,Nanang.2004.Pendidikan dan Sains.Jakarta : PT,Rineka
Cipta
Langgulung, Hasan.1992.Asas-Asas Pendidikan Aslam.Jakarta:
Pustaka al-Husna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar