Kamis, 09 April 2015

Model-model pengembangan Kurikulum



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengembangan kurikulum  tidak dapat  lepas  dari  berbagai  aspek  yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya,  dan  sosial),  proses  pengembangan,  kebutuhan  peserta  didik,  kebutuhan masyarakat  maupun  arah  program  pendidikan. Aspek-aspek tersebut  akan menjadi bahan yangperlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan  kurikulum. Model  pengembangan  kurikulum  merupakan  suatu alternatif  prosedur  dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan  mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat  menggambarkan  suatu proses  sistem  perencanaan  pembelajaran  yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan
Para ahli kurikulum selama ini telah mendapatkan sejumlah pendekatan umum dalam pengembangan kurikulum masing-masing berdasarkan fokus utama tertentu. Cara penggolongan oleh para ahli itu agak berlainan, namun apa yang dikemukakan di sini boleh dikatakan telah mencakup kebanyakan dari pendekatan utama desawa ini.
pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis  untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas pemakalah ingin memperjelas dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1.       Apa pengertian model-model pengembangan kurikulum?
2.       Ada berapa model yang dipergunakan dalam pengembangan kurikulum?
3.      Apa pengertian pendekatan pengembangan kurikulum ?
4.      Jelaskan pendekatan- pendakatan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum ?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan pengertian model-model pengembangan kurikulum
2.      Menjelaskan berbagai jenis model-model pengembangan kurikulum
3.      Menjelaskan pengertian pendekatan pengembangan kurikulum
4.      Mengetahui pendekatan- pendekatan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum


























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model Pengembangan  kurikulum
Kegiatan pengembangan kurikulum sekolah memerlukan model yang di jadikan lambing teoretis untuk melaksanakan  suatu kegiatan. Model atau konstruksi merupakan ulasan teoretis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam kegiatan pengembangan kurikulum,model  merupakan ulasan teoretis tentang  proses pengembangan kurikulum secara menyeluruh atau atau dapat pula hanya mencakup salah satu komponen  kurikulum. Ada suatu model yang memberikan ulasan tentang suatu proses kurikulum, tetapi ada  pula yang hanya  menekankan  pada mekanisme  pengembangannya saja,dan itu pun hanya pada uraian  tentang pengembangan  organisasinya.
Menurut (Kamus Besar Bahasa Indonesia) model adalah pola, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang akan dihasilkan. Dikaitkan dengan model pengembangan kurikulum berarti merupakan suatu pola, contoh dari suatu bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan pelaksanaan pendidikan/pembelajaran.
Model pengembangan kurikulum adalah model yang digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.
Ada banyak model  pengembagan  kurikulum yang telah dipikirkan dan dikemukakan orang. Berikut akan dibicarakan  beberapa diantaranya, yaitu model yang dikemukakan oleh Togers dan oleh Zais (c.f.Depdikbud,1982/1983: 15-24).
1.      Model  Pengembangan Kurikulum Zais
Robert  S.Zais ( 1987 ) mengemukakan delapan macam model pengembangan kurikulum. Model-model tersebut sebagian merupakan model yang sering di tempuh dalam kegiatan pengembangan kurikulum sekolah,dan sebagian merupakan ulasan terhadap model yang di kemukakan oleh tokoh-tokoh tersebut.
a.       model administrative
model administrative sering pula disebut sebagai model garis dan stafaqtau model dari atas kebawah. Kegiatan pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat pendidikan yang berwenangyang membentuk panitia pengarah. Biasanya terdiri atas para pengawas pendidikan, kepala sekolah, dan staf poengajar inti. Panitia pengawas tersebut diserahi tugasutnuk merencanakan,memberikan pengarahan, tentang garis besar kebijaksanaan, menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan umum pendidikan. Setelah kegiatan tersebutr selesai, kemudian panitia menunjuk atau membentuk kelompok-kelompok  kerja sesuai dengan keperluan. Para anggota biasanya terdiri atas staf pengajaran dan spesialis kurikulum. Kelompok-kelompok kerja tersebut  bertugas untuk menyusun tujuan-tujuan khusus pendidikan,  garis besar bahan pengajaran, dan kegiatan belajar. Hasil kerja kelompok tersebut direfisi oleh panitia pengarah, dan kemudian jika di pandang perlu, walaupun hal ini jarang dilakukan, dilakukan uji coba untuk mengetahui  efektivitas dan kelayakan pelaksanaannya . pelaksana uji coba rancangan kurikulum tersebut adalah sebuah komisi yang di tunjuk oleh panitia pngarah yang para anggotanya sebagian besar terdiri atas kepala sekolah. Setelah peneliti uji coba selesai, panitia pengarah menelaah (atau mengevaluasi) sekali lagi rancangan kurikulum tersebut baru kemudian mengutuskan pelaksanaannya .
pengembangan kurikulum model administrative menekankan kegiatannya pada orang=orang yang  terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. karena  pengarahan kegiatan berasal dari atas ke bawah,pada dasarnya model ini mudah dilaksankan pada Negara yang menganut system sentralisasi dan Negara yang kemampuan professional tenaga pengajarannya masih rendah.  kelemahan  model ini terletak pada kurang pekanya terhadap perubahan masyarakat,di samping juga karena kurikulum ini biasanya bersifat seragam secara nasional, sehingga kadang-kadang melupakan ( atau mengabaikan ) kebutuhan dan kekhususan pada tiap daerah.

b.      Model Grass Roots
Jika pada model administrative kegiatan pengembangan kurikulum berasal dari atas,pada model yang kedua ini,inisiatif justru berasal dari bawah,yaitu parapengajar yang merupkan pelaksana kurikulum di sekolah-sekolah. Model ini mendasarkan diri pada anggapan bahwa penerapan suatu kurikulum akan lebih efektif jika para pelaksanaanya sudah diikutsertakan sejak mula pada kegiatan pengembangan kurikulum itu.
Pengembangan kurikulum model dari  bawah menuntut adanya kerja sama anatar sekolah secara baik, di samping itu juga harus ada kerja sama antar pihak di luar sekolah khususnya orang tua murid dan masyarakat. Pada pelaksanaannya, para administrator cukup memberikan bimbingan dan dorongan kepada para staf pengajar,setelah menyelesaikan tahap tertentu, biasanya diadakan lokakarya untuk membahas hasil yang telah dicapai, dan merencanakan kegiatan yang akan dilaksankan selanjutnya. Pengikut lokakarya di samping para pengajar dan kepala sekolah, juga orang tua dan anggota masyarakat lainnya,serta para konsultan dan para nara sumber yang lain.
Pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum model ini adalah pengembangan kurikulum secara demokratis, yaitu berasal dari bawah. Keuntungan model ini adalah proses pengambilan keputusan terletak pada para pelaksana , mengikutsertakan berbagai pihak bawah khususnya para staf pengajar. Kekurangan pengembangan kurikulum  model ini terutama pada sifat  mengakibatkan segi teknis dan profesioanal dari perkurikuluman.

c.       Model Terbalik
Pengembangan model ini diawali dengan melakukan percobaan,penyusunan teori,dan kemudian penerapan. Hal ini dimaksudkanuntuk mempertemukan antara teori dan praktek, serta menghilangkan sifat keumuman dan keabstrakan pada kurikulum yang terjadi tanpa kegiatan percobaan.
Pengembangan kurikulum ini dilakukan melalui lima tahap yang dapat dikemukakan sebagai berikut :
a)      Tahap pertama adalah menyusun unit-unit kurikulum yang ada dan di uji cobakan oleh staf pengajar. Penyusuanan unit-unit tersebut di lakukan dengan cara mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan khusus, memilih dan mengorganisasi  isi pelajaran, memilih pengalaman belajar,melakukan penilaian dan mempertimbangkan keseimbangan antara kedalaman dan keluasan bahan pelajaran. Setelah unit-unit tersusun
b)      Langkah kedua adalah mengujicobakannya untuk mengetahui kesahihan dan kelayakan kegiatan belajar mengajarnya.langkah berikutnya adalah menganalisis dan merevisi hasil uji coba, serta kemudian mengdiagnosikannya.
c)      Langkah ketiga adalah menganalisis dan merevisi hasil uji coba, seta mengonsolidasikan.
d)     Langkah ke empat adalah menyusun kerangka kerja teoritis. Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan ini adalah mendasarkan diri  pada pertanyaan –pertanyaan apakah isi unit-unit yang di susun secara berurutan itu telah berimbang kedalamnya dan  keluasannya.
e)      Langkah kelima adalah menyusun kurikulum yang dikembangkan secara menyuluruh dan mengumumkannya ( mendiseminasikan ).
Pengembangan  kurikulum  model terbalik berusaha mendekatkan kurikulum realitas dengan pelaksanaannya, yaitu melalui penguijian terlebihdahulu oleh staf pengajar yang professional. Debgan demikian model ini benar-benar memadukan teori dan  praktiek. Akan tetapi, dan ini dipandang sebagai kelemahannya model tersebut sulit diorganisasikan karena menurut kemampuan  teoritis dan profesioanal yang tertinggi dari staf pengajar dan administrator pelaksana.
d.      Model Pemecahan Masalah.
Model ini dikenal juga dengan nama action research model. Dari sisi proses, kurikulum model ini sudah melibatkan seluruh komponen pendidikan yang meliputi siswa, orang tua, guru serta sistem sekolah. Kurikulum dikembangkandalam rangka memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholder) yang meliputi orang tua siswa, masyarakat, dan lain-lain. Penyusunan kurikulumdilakukan dengan mengikuti prosedur action research. Sukmadinata (2005:169) menyebutkan ada dua langkah dalam penyusunankurikulum jenis ini.
Pertama, melakukan kajian tentang data-data yang dikumpulkan sebagai bahan penyusunan kurikulum. Data (informasi) yang dikumpulkan hendaknya valid dan reliabel sehingga dapat digunakan sebagai dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan penyusunan kurikulum. Data yang lemah akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan keputusan ini,disusunlah rencana yang menyeluruh (komprehensif) tentang cara-cara mengatasimasalah yang ada.
Kedua, melakukan implementasi atas keputusan yang dihasilkan padalangkah pertama. Dari proses ini akan diperoleh data-data (informasi) baru yangselanjutnya dimanfaatkan untuk mengevaluasi masalah-masalah yang muncul dilapangan sebagai upaya tindak lanjut untuk memodifikasi/memperbaiki kurikulum.

2.      Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Ada beberapa model yang dikemukakan Rogers, yaitu jumlah dari model yang paling sederhana sampai dengan komplit. Model-model tersebut disusun sedemikian rupa sehingga model yang berikutnya sebenarnya merupakan  penyempurnaan dari model-model sebelumnya. Adapaun model-model tersebut ( ada empat model ) dapat dikemukakan sebagai berikut :
Model I (atau model yang paling sederhana ) mengambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata  terdiri atas kegiatan memberikan  informasi ( isi pelajaran ) dan ujian. Hal itu berdasarkan asumsi bahwa  pendidikan  adalah evaluasi dan evaluasi pendidikan, serta pengetahuan adalah akumulasi  materi dan informasi . model tersebut merupakan model tradisional yang masih dipergunakan.Model tersebut walaupun sangat sederhana dan tidak memadai.
Model  II dilakukan dengan menyempurnakan  model I yaitu tentang metode dan organisasi bahan pelajaran. Model II pengembangan kurikulum tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut :





Text Box: Metode mengajar
Text Box: Organisasi bahan pelajaran

 
Text Box: evaluasiText Box: Bahan pelajaran                                                         


Dalam pengembangan kurikulum pada model II diatas sudah dipikirkan pemilihan metode yang efektif bagi berlangsungnya prosesnya pengajaran. Di samping itu, bahan pelajaran juga disusun secara sistematis, dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan dalamnya suatu bahan pelajaran. Akan tetapi, model II belum memperhatikan masalah teknologi  pendidikan yang sangat menunjang  keberhasilan kegiatan pengajaran.
Model III pengembangan kurikulum  yaitu dengan memasukan unsur teknologi  pendidikan  ke dalamnya. Hal itu bedasarkan pertimbangan bahwa teknologin pendidikan merupakan factor yang sangat menunjang dalam  keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Dengan memasukan unsur teknologi pendidikan.
Model IV pengembangan kurikulum merupakan penyempurnaan model III, yiatu dengan memasukan unsur tujuan ke dalamnya. Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain,baik metode,organisasi bahan, teknologi pengajaran,isi pelajaran maupun kegiatan penilain yang dilakukan.  
B.     Pengertian Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Seringkali kita bicara bahwa pendekatannya kurang tepat untuk masalah ini, sehingga hasilnyapun kurang mencapai sasaran yang memuaskan, dan sebagainya. Disamping itu,kita juga sering mengatakan bahwa  “dengan strategi yang tepat maka hasilnya akan lebih baik”. Dua perkataan “pendekatan” dan “ strategi” ini sering kali membuat kita terkecoh tentang mana kata yang harus digunakan. Untuk itu baiknya kita tinjau kedua pengertian kata berikut.

Pada dasarnya strategi dan pendekatan adalah berbeda. Perbedaannya terletak pada jangkauan (cakupan) bahasanya. Hal ini berarti bahwa strategi lebih sempit daripada pendekatan. Strategi pada dasarnya adalah siasat yang di terapkan untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan pendekatan lebih menekankan pada usaha dan penerapan langkah-langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu strategi dan beberapa metode yang tepat, yang di jalankan sesuai dengan langkah-langkah yang sistematik untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik.

Jadi, pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis  untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. Ada berbagai macam pendekatan yang dapat digunakan dalam mengembangkan kurikulum, diantaranya berikut ini.

1.      Pendekatan Bidang Studi
Pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum, misalnya matematika, sains, sejarah, geografi, atau IPA, IPS, dan sebagainya seperti yang lazim kita dapati dalam sistem pendidikan kita sekarang di semua sekolah dan universitas.
            Di sini dapat dibedakan “macro-organiser” “organizer” dan “micro-organizer”, misalnya :
Macro Organizer : Matematika
Organizer             : Aljabar, Geometri, Kalkulus
Micro Organizer  : Aljabar I, Aljabar II, dan sebagainya
            Yang diutamakan dalam pendekatan ini adalah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu. Tipe organisasi ini sesuain dengan falsafah realisme. Pendekatan ini paling mudah dibandingkan dengan pendekatan lainnya oleh sebab disiplin ilmu telah jelas batasannya dan karena itu lebih mudah mempertanggung jawabkan apa yang diajarkan. Kurikulum ini terutama didasarkan atas determinan hakikat pengetahuan dengan mengabaikan ketiga determinan lainnya.

2.      Pendekatan yang berorientasi pada tujuan
Pertanyaan yang pertama kali muncul pada pendekatan yang berorientasi pada tujuan adalah “tujuan apa yang akan di capai, atau pengetahuan, keterampilan dan sikap apakah yang di harapkan dimiliki oleh peserta didik setelah menyelesaikan kurikulum?” untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dirumuskan tujuan dan pengetahuan, serta keterampilan dan sikap yang diharapkan , secara jelas dan operasional . berdasarkan tujuan ini kemudian ditetapkan materi pengajaran, kegiatan belajar mengajar atau materi pengajarnya.
Pendekatan yang berorentasi pada tujuan ini, menempatkan rumusan atau penerapan tujuan yang hendak dicapai dalam posisi sentral, sebab tujuan adalah pemberi arah dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Apakah kelebihan dan kekurangan pendekatan yang berorientasi pada tujuan? Kelebihan dari pendekatan pengembangan kurikulum yang berorientasi  pada tujuan adalah:
a)      Tujuan yang ingin di capai jelas bagi penyusun kurikulum.
b)      Tujuan yang jelas  yang jelas akan memberikan arah yang jelas pula dalam menetapkan materi pelajaran, metode, jenis kegiatan dan alat yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
c)      Tujuan-tujuan yang jelas itu juga akan memberikan arah dalam mengadakan penilaian terhadap hasil yang dicapai.
d)     Hasil  penilaian yang terarah tersebut akan membantu penyusunan kurikulum dalam mengadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
Meskipun pendekatan ini memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan pendekatan berorientasi pada bahan, pendekatan ini juga memiliki kelemahan, yaitu kesuliatan dalam merumuskan tujuan itu sendiri (bagi guru). Apalagi  jika tujuan tersebut harus dirumuskan lebih khusus, jelas, operasional dan dapat di ukur. Untuk merealisasikan  maksud tersebut, pihak guru di tuntut memiliki keahlian, pengalaman dan keterampilan dalam perumusan tujuan khusus pengajaran. Jika tidak demikian, maka akan terwujud rumusan tujuan khusus yang bersifat dangkal dan mekanistik.
3.      Pendekatan berorientasi pada bahan ajaran
Pertanyaan pertama yang muncul dalam kaitannya dengan pendekatan yang berorientasi pada bahan adalah “ bahan apa yang akan di berikan atau diajarkan kepada peserta didik?” pengembangan kurikulum yang akan di terapkan dikelas mengacu pada bahan pengajaran. Pendekatan ini di Indonesia di terapkan dalam kurikulum sebelum kurikulum 1975.
Bagaimana halnya dengan kelebihan dan kekurangan yang berorientasi pada bahan pelajaran? Kelebihan pendekatan yang berorientasi pada bahan adalah bahan pengajaran lebih fleksibel dan bebas dalam menyusunnya, sebab tidak ada ketentuan yang pasti dalam menentukan bahan pengajaran yang sesuai dengan tujuan.  Kelemahannya adalah karena tujuan pengajaran kurang  jelas, sukar ditentukan pedoman dalam menentukan metode yang sesuai untuk pengajaran. Demikian juga untuk kebutuhan penilaian.

4.      Pendekatan Rekonstruksionisme
Pendekatan ini juga disebut Rekonstruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, rasialisme, interdependensi global, kemiskinan, mala petaka akibat kemajuan teknologi, perang dan lain-lain.
Dalam gerakan rekonstruksionisme ini terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangannya terdapat tentang kurikulum, yakni rekonstruksionisme konservatif dan rekonstruksionisme radikal.
a)      rekonstruksionisme konservatif. Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling dihadapi masyarakat.
Masalah-masalah yang dapat bersifat lokal dan dapat dibicarakan di SD, ada pula yang bersifat daerah, nasional, regional dan internasional bagi pelajar SD dan Perguruan Tinggi. Dalam PBM-nya metode problem salving memegang peranan utama dengan menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu.
Peranan guru ialah sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan falsafah pragmatisme.
b)      rekonstruksionisme radikal. Pendekatan ini berpendapat bahwa banyak negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Elite yang berkuasa (sering golongan industri, militer, politik) mengadakan tekanan terhadap masa yang tak berdaya melalui sistem pendidikan yang diatur demi tujuan itu. Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidikan formal maupun non-formal mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. Mereka berpendapat bahwa kurikulum yang sekedar mencari pemecahan masalah sosial tidak memadai. Malasah sosial justru merupakan indikator adanya masalah lain yang lebih mendalam mengenai struktur masyarakat. Mereka berpendapat bahwa sekolah yang dikembangkan negara bersifat opresif dan tidak humanistik serta digunakan sebagai alat golongan elit untuk mempertahankan status quo.
Kedua pendirian yang saling bertentangan ini, baik yang konservatif maupun radikal, mempunyai unsur kesamaan. Masing-masing berpendirian bahwa missi sekolah, ialah untuk mengubah dan memperbaiki masyarakat.
Perbedaannya terletak dalam definisi atau tafsiran masing-masing tentang “perbaikan” dan cara pendekatan terhadap masalah itu. Golongan konservatif bekerja dalam rangka struktur yang ada untuk memperbaiki kualitas hidup. Mereka berasumsi bahwa masalah-masalah sosial adalah hasil ciptaan manusia dan karena itu dapat diatasi oleh manusia. Sebaliknya golongan radikal ingin merombak tata sosial yang ada dan menciptakan tata sosial yang baru sama sekali untuk memperbaiki mutu hidup, oleh sebab tata sosial yang ada tidak adil dan akan tetap tidak adil.

5.      Pendekatan Humanistik
Kurikulum ini berpusat pada siswa, jadi “student-centered”, dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pendidikan humanistik yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa haris dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberi hasil maksimal.
Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep diri siswa berkolerasi tinggi dengan prestasi akademis. Siswa dengan konsep-diri rendah lebih banyak mengalami kesulitan belajar dari pada siswa denagn konsep-diri positif.
Pendidikan yang berpusat pada siswa memfokuska kurikulum pada kebutuhan siswa baik personal maupun sosial. Murid-murid SD misalnya diajarkan cara bergaul, saling bertukar pengalaman, berkelakuan sopan santun, mengembangkan rasa percaya akan kemampuan diri dan konsep diri yang sehat, dan sebagainya.
Di Perguruan Tinggi topik-topik yang dapat dibicarakan antara lain mengenai cara belajar mandiri, mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah lulus, membentuk integrasi pribadi, dan sebagainya.
Pendekatan humanistik dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi yang berikut:
a.       Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga-dirinya dikembangkan sepenuhnya.
b.      Siswa yang diturut sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya.
c.       Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling percaya, saling membantu, saling mempedulikan dan bebas dari ketegangan yang berlebihan.
d.      Guru yang berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab kepada siswa atas kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap “apa sebab” dan “bagaimana” mereka belajar.
e.       Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran itu.
f.       Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.
Kurikulum Humanistik didasarkan atas apa yang kadang-kadang disebut “psikologi humanistik” yang erat hubungannya dengan psikologi lapangan (field psychology) dan teori kepribadian (khususnya Maslow). Seorang humanis dapat menganut salah satu dari keempat falsafah pendidikan utama. Pendekatan Humanistik tampak terutama dalam proses interaksi dalam kelas, dalam suasana belajar, dalam cara menyajikan pelajaran, jadi bukan dalam orientasi falsafahnya.

6.      Pendekatan Accountability
Accountability atau pertanggung jawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh yang penting dalam dunia pendidikan. Namun, menurut banyak pengamat pendidikan Accountability ini telah mendesak pendidikan dalam arti yang sebenarnya menjadi latihan belaka.
            Dalam usaha mengembangkan standar yang dapat dipertanggungjawabkan, pendekatan kurikulum beralih ke arah apa yang disebut sistem yang tertutup atau model latihan.


            Di bawah ini kami bandingkan sistem yang accountable yang bersifat tertutup atau sistem yang lebih terbuka.




Sistem Tertutup – Latihan
Sistem Terbuka - Pendidikan
Tujuan
Hasil belajar lebih dahulu ditentukan berdasarkan standar yang dirumuskan secara spesifik, siswa dilatih berkenalan sesuai dengan yang ditetapkan sekolah
Siswa belajar tentang “cara belajar”, cara memecahkan masalah kompleks, mengambil keputusan secara mandiri dan memberi penilaian etis moral secara pribadi

Membantu siswa menyesuaikan diri dengan dunia sebagaimana adanya
Membantu siswa berpartisipasi dalam proses pengembangan dunia, mecari kebenaran baru, dan membangun dunia yang lebih baik dari pada yang sekarang

Proses
Menstransmisi informasi dan keterampilan melalui latihan, ulangan, hafalan berdasarkan teori stimulus-respon

Menjalankan proses penelitian, menggunakan metode penemuan, mengajukan hipotesis untuk mengungkapkan “realitas” baru

Peranan Guru
Orang yang berkedudukan otoriter yang menyampaikan pengetahuan dan keterampilan

Orang yang turut belajar mencari pengetahuan, kebenaran, dan keadilan universal yang baru
motivasi
Ekstrinsik, dengan menggunakan angka-angka pujian, hukuman, tekanan dan paksaan

Intrinsik, dengan memupuk hasrat belajar, meneliti, menemukan pengetahuan baru, melahirkan ide dan cara berpikir baru

Metode Utama
Direktif: ceramah, demonstrasi, latihan, praktek
Interaktif - eksperimental
Domain (Ranah) tingkatan
Kognitif, psikomotor, tingkat rendah
Kognitif, afektif, psikomotor tingkat tinggi
Hasil Belajar Afektif
Siswa kaku, tidak mudah berubah atau menyelesuaikan diri dengan ide atau situasi baru, terkait dan tidak bebas untuk berubah

Siswa mempunyai kebebasan batin dan kemampuan untuk berubah bila menghadapi informasi, kenyataan atau situasi baru

Dalam sistem tertutup keempat determinan (filosofis, sosiologis, psikologis, dan pengetahuan) kebanyakan telah ditentukan sebelum sehingga kemungkinan mengadakan perubahan sangat terbatas. Adakalanya sistem tertutup ini dapat diterobos sewaktu-waktu berkat usaha individual dengan timbulnya hasil belajar sampingan yang tidak direncanakan, sering dalam bidang afektif yang dapat mengecewakan pengajar. Cara ini tidak menghasilkan perubahan kelakuan siswa, karena perubahan kelakuan adalah proses individual, personal, dan internal dan tidak dianjurkan secara langsung.




Kelemahan Sistem Tertutup
Kelemahan-kelemahan sistem tertutup ini, antara lain:
1)      Sistem ini terhadap perubahan, artinya sangat membatasi inisiatif lokal, misalnya guru untuk mengubahnya. Perubahan hanya dalam tangan otoritas pusat yang menguasai kurikulum itu.
2)      Sistem ini mudah disalah gunakan oleh mereka yang mengontrol pendidikan.
3)      Sukar menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan, kemampuan dan minat siswa secara individual.
4)      Sukar untuk mengembangkan segi kognitif dan afektif tingkat tinggi.
Keuntungan Sistem Tertutup
Beberapa keuntungan sistem tertutup ini ialah:
1)   Hasil belajar dirumuskan dengan jelas dan keberhasilan belajar siswa dapat diukur dengan mudah.
2)   Guru, siswa, dan orang tua jelas mengetahui apa yang diharapkan dari sekolah dan dengan demikian dapat menghindari keraguan-keraguan, frustasi, dan perbedaan tafsiran.
3)   Ada kemungkinan memberi penguasaan tuntas atas keterampilan pokok, pengetahuan, dan keterampilan mekanis-teknis yang menimal bagi semua siswa.
4)   Metode mengajar yang sederhana serta alat yang terbatas telah memadai untuk mencapai hasil yang efektif.
       Sistem Terbuka
            Dalam sistem terbuka keempat determinan itu senantiasa dapat berubah seirama dengan perubahan yang dialami masyarakat, orangtua, siswa, dan guru yang berusaha mempengaruhi sistem pendidikan berhubung dengan timbulnya pengetahuan baru dan majunya teknologi.


Kelemahan sistem terbuka ini, antara lain:
1)      Hasil belajar tidak selalu dapat dirumuskan dalam bentuk yang dapat diukur dan oleh sebab itu tidak dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang kemajuan siswa maupun taraf pendidikan umumnya.
2)      Sistem penilaiannya sangat sukar bila pengajaran didasarkan atas metode pemecahan masalah dan inkuiri, karena sering tidak ada satu jawaban yang tepat. Karena itu penilaian berorintasi pada proses produk yang sering bersifat surjektif.
3)      Kerap kali sulit bagi siswa dan guru untuk menyesuaikan diri dengan sistem terbuka bila terbiasa dengan sistem tertutup yang memandang guru sebagai sumber satu-satunya yang mempunyai otoritas tentang apa yang benar dan yang salah.
Keuntungan sistem ini ialah:
1)   Dengan sistem ini siswa “belajar tentang cara belajar”.
2)   Sistem ini mengutamakan pengembangan keterampilan berpikir, pemikiran kritis dan analitis dan kreativitas pada tingkat lebih tinggi.
3)   Sistem ini mudah menyerap pengetahuan, teknologi, dan ide baru yang timbul terus-menerus dalam dunia yang dinamis ini.
4)   Interaksi dalam kelas mengikuti proses demokratis.
5)   Sistem ini fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan, minat, dan hasrat siswa secara individual.

Dari analisis diatas mengenai sistem tertututp dan terbuka jelaslah bahwa kedua sistem ini mengandung unsur-unsur yang menguntungkan yang dapat dimanfaatkan oleh pengembang kurikulum. Jadi soalnya bukanlah memilih salah satu di antaranya sebagai yang terbaik, melainkan untuk mempertimbangkan tujuan dan dalam kondisi bagaimanakah suatu sistem lebih efektif. bila diinginkan dipertanggung jawabkan tentang hasil pendidikan, maka kurikulum tetutup akan lebih serasi. Akan tetapi bila diinginkan kurikulum yang dinamis, yang lebih relavan dengan masalah-masalah sosial yang memerlukan keterampilan pemecahan masalah, maka pilihan akan cenderung jatuh pada kurikulum terbuka.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keberadaan model-model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum dan dengan mempelajari model-model pengembangan kurikulum dapat memudahkan dalam melakukan pengembangan kurikulum.
Pada saat ini banyak para ahli yang mengemukakan tentang model-model pengembangan kurikulum, tetapi setiap model pengembangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, juga memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan masing-masing model arahan pengembangannya berbeda-beda ada yang menitikberatkan pada pengambil kebijaksanaan, pada perumusan tujuan, perumusan isi pelajaran, pelaksanaan kurikulum itu sendiri dan evaluasi kurikulum.
Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum sebaiknya perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut dan mempertimbangkan model pengembangan kurikulum yang sesuai dengan yang diharapkan.
Model-model kurikulum akan berkembang terus seperti kurikulum yang terus berkembang sesuai dengan kebutuhan.

B.      Saran
Ø  Sebagai tenaga profesional guru dituntut untuk memiliki sejumlah pengetahuan yang berhubungan dengan kurikulum karena kurikulum merupakan nadi penggerak dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, penelitian atau memperkaya diri dengan melalui bahan bacaan, internet dan sebagainya.
Ø  Makalah ini sangat terbatas dalam menyajikan model-model pengembangan kurikulum dan masih banyak lagi model-model pengembangan kurikulum yang belum, oleh karena itu perlu dicari tahu lagi yang lainnya.



















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad dkk. Pengembangan Kurikulum. Bandung : CV Pustaka Setia. 1998
Nasution. Kurikulum dan Pengajaran. Bandung : PT Bumi Aksara. 1989


Tidak ada komentar:

Posting Komentar