BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pengembangan
kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai
aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai
moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses
pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan
masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek
tersebut akan menjadi bahan yangperlu dipertimbangkan dalam suatu
pengembangan kurikulum. Model pengembangan
kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka
mendesain (designing), menerapkan (implementation),
dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu,
model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu
proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat
memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan
Para ahli kurikulum selama ini telah mendapatkan
sejumlah pendekatan umum dalam pengembangan kurikulum masing-masing berdasarkan
fokus utama tertentu. Cara penggolongan oleh para ahli itu agak berlainan, namun
apa yang dikemukakan di sini boleh dikatakan telah mencakup kebanyakan dari
pendekatan utama desawa ini.
pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja
dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti
langkah-langkah pengembangan yang sistematis
untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
B.
Rumusan
Masalah
Dari
uraian latar belakang di atas pemakalah ingin memperjelas dengan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian model-model pengembangan
kurikulum?
2. Ada
berapa model yang dipergunakan dalam pengembangan kurikulum?
3. Apa
pengertian pendekatan pengembangan kurikulum ?
4. Jelaskan
pendekatan- pendakatan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum ?
C.
Tujuan
1. Menjelaskan
pengertian model-model pengembangan kurikulum
2. Menjelaskan
berbagai jenis model-model pengembangan kurikulum
3. Menjelaskan
pengertian pendekatan pengembangan kurikulum
4. Mengetahui
pendekatan- pendekatan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Model Pengembangan kurikulum
Kegiatan pengembangan kurikulum sekolah memerlukan
model yang di jadikan lambing teoretis untuk melaksanakan suatu kegiatan. Model atau konstruksi
merupakan ulasan teoretis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam kegiatan
pengembangan kurikulum,model merupakan
ulasan teoretis tentang proses
pengembangan kurikulum secara menyeluruh atau atau dapat pula hanya mencakup
salah satu komponen kurikulum. Ada suatu
model yang memberikan ulasan tentang suatu proses kurikulum, tetapi ada pula yang hanya menekankan
pada mekanisme pengembangannya
saja,dan itu pun hanya pada uraian tentang pengembangan organisasinya.
Menurut (Kamus Besar Bahasa Indonesia) model adalah
pola, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang akan dihasilkan. Dikaitkan dengan
model pengembangan kurikulum berarti merupakan suatu pola, contoh dari suatu
bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan pelaksanaan pendidikan/pembelajaran.
Model pengembangan kurikulum adalah model yang
digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum
dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk
dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.
Ada banyak model
pengembagan kurikulum yang telah
dipikirkan dan dikemukakan orang. Berikut akan dibicarakan beberapa diantaranya, yaitu model yang
dikemukakan oleh Togers dan oleh Zais (c.f.Depdikbud,1982/1983: 15-24).
1. Model Pengembangan Kurikulum Zais
Robert S.Zais ( 1987 ) mengemukakan delapan macam
model pengembangan kurikulum. Model-model tersebut sebagian merupakan model
yang sering di tempuh dalam kegiatan pengembangan kurikulum sekolah,dan
sebagian merupakan ulasan terhadap model yang di kemukakan oleh tokoh-tokoh
tersebut.
a. model
administrative
model
administrative sering pula disebut sebagai model garis dan stafaqtau model dari
atas kebawah. Kegiatan pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat pendidikan
yang berwenangyang membentuk panitia pengarah. Biasanya terdiri atas para
pengawas pendidikan, kepala sekolah, dan staf poengajar inti. Panitia pengawas
tersebut diserahi tugasutnuk merencanakan,memberikan pengarahan, tentang garis
besar kebijaksanaan, menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan umum pendidikan.
Setelah kegiatan tersebutr selesai, kemudian panitia menunjuk atau membentuk
kelompok-kelompok kerja sesuai dengan
keperluan. Para anggota biasanya terdiri atas staf pengajaran dan spesialis
kurikulum. Kelompok-kelompok kerja tersebut
bertugas untuk menyusun tujuan-tujuan khusus pendidikan, garis besar bahan pengajaran, dan kegiatan
belajar. Hasil kerja kelompok tersebut direfisi oleh panitia pengarah, dan
kemudian jika di pandang perlu, walaupun hal ini jarang dilakukan, dilakukan
uji coba untuk mengetahui efektivitas
dan kelayakan pelaksanaannya . pelaksana uji coba rancangan kurikulum tersebut
adalah sebuah komisi yang di tunjuk oleh panitia pngarah yang para anggotanya
sebagian besar terdiri atas kepala sekolah. Setelah peneliti uji coba selesai,
panitia pengarah menelaah (atau mengevaluasi) sekali lagi rancangan kurikulum
tersebut baru kemudian mengutuskan pelaksanaannya .
pengembangan
kurikulum model administrative menekankan kegiatannya pada orang=orang
yang terlibat sesuai dengan tugas dan
fungsinya masing-masing. karena
pengarahan kegiatan berasal dari atas ke bawah,pada dasarnya model ini
mudah dilaksankan pada Negara yang menganut system sentralisasi dan Negara yang
kemampuan professional tenaga pengajarannya masih rendah. kelemahan
model ini terletak pada kurang pekanya terhadap perubahan masyarakat,di
samping juga karena kurikulum ini biasanya bersifat seragam secara nasional,
sehingga kadang-kadang melupakan ( atau mengabaikan ) kebutuhan dan kekhususan
pada tiap daerah.
b. Model
Grass Roots
Jika pada model
administrative kegiatan pengembangan kurikulum berasal dari atas,pada model
yang kedua ini,inisiatif justru berasal dari bawah,yaitu parapengajar yang
merupkan pelaksana kurikulum di sekolah-sekolah. Model ini mendasarkan diri
pada anggapan bahwa penerapan suatu kurikulum akan lebih efektif jika para pelaksanaanya
sudah diikutsertakan sejak mula pada kegiatan pengembangan kurikulum itu.
Pengembangan
kurikulum model dari bawah menuntut
adanya kerja sama anatar sekolah secara baik, di samping itu juga harus ada
kerja sama antar pihak di luar sekolah khususnya orang tua murid dan
masyarakat. Pada pelaksanaannya, para administrator cukup memberikan bimbingan
dan dorongan kepada para staf pengajar,setelah menyelesaikan tahap tertentu,
biasanya diadakan lokakarya untuk membahas hasil yang telah dicapai, dan merencanakan
kegiatan yang akan dilaksankan selanjutnya. Pengikut lokakarya di samping para
pengajar dan kepala sekolah, juga orang tua dan anggota masyarakat
lainnya,serta para konsultan dan para nara sumber yang lain.
Pandangan yang
mendasari pengembangan kurikulum model ini adalah pengembangan kurikulum secara
demokratis, yaitu berasal dari bawah. Keuntungan model ini adalah proses
pengambilan keputusan terletak pada para pelaksana , mengikutsertakan berbagai
pihak bawah khususnya para staf pengajar. Kekurangan pengembangan
kurikulum model ini terutama pada
sifat mengakibatkan segi teknis dan
profesioanal dari perkurikuluman.
c. Model
Terbalik
Pengembangan
model ini diawali dengan melakukan percobaan,penyusunan teori,dan kemudian
penerapan. Hal ini dimaksudkanuntuk mempertemukan antara teori dan praktek,
serta menghilangkan sifat keumuman dan keabstrakan pada kurikulum yang terjadi
tanpa kegiatan percobaan.
Pengembangan
kurikulum ini dilakukan melalui lima tahap yang dapat dikemukakan sebagai
berikut :
a) Tahap
pertama adalah menyusun unit-unit kurikulum yang ada dan di uji cobakan oleh
staf pengajar. Penyusuanan unit-unit tersebut di lakukan dengan cara
mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan khusus, memilih dan mengorganisasi isi pelajaran, memilih pengalaman
belajar,melakukan penilaian dan mempertimbangkan keseimbangan antara kedalaman
dan keluasan bahan pelajaran. Setelah unit-unit tersusun
b) Langkah
kedua adalah mengujicobakannya untuk mengetahui kesahihan dan kelayakan
kegiatan belajar mengajarnya.langkah berikutnya adalah menganalisis dan
merevisi hasil uji coba, serta kemudian mengdiagnosikannya.
c) Langkah
ketiga adalah menganalisis dan merevisi hasil uji coba, seta mengonsolidasikan.
d) Langkah
ke empat adalah menyusun kerangka kerja teoritis. Perkembangan yang
dipergunakan untuk melakukan kegiatan ini adalah mendasarkan diri pada pertanyaan –pertanyaan apakah isi
unit-unit yang di susun secara berurutan itu telah berimbang kedalamnya
dan keluasannya.
e) Langkah
kelima adalah menyusun kurikulum yang dikembangkan secara menyuluruh dan
mengumumkannya ( mendiseminasikan ).
Pengembangan kurikulum
model terbalik berusaha mendekatkan kurikulum realitas dengan
pelaksanaannya, yaitu melalui penguijian terlebihdahulu oleh staf pengajar yang
professional. Debgan demikian model ini benar-benar memadukan teori dan praktiek. Akan tetapi, dan ini dipandang
sebagai kelemahannya model tersebut sulit diorganisasikan karena menurut
kemampuan teoritis dan profesioanal yang
tertinggi dari staf pengajar dan administrator pelaksana.
d. Model
Pemecahan Masalah.
Model ini
dikenal juga dengan nama action research model. Dari sisi proses, kurikulum
model ini sudah melibatkan seluruh komponen pendidikan yang meliputi siswa,
orang tua, guru serta sistem sekolah. Kurikulum dikembangkandalam rangka
memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholder) yang meliputi orang tua siswa, masyarakat, dan
lain-lain. Penyusunan kurikulumdilakukan dengan mengikuti prosedur action
research. Sukmadinata (2005:169) menyebutkan ada dua langkah dalam
penyusunankurikulum jenis ini.
Pertama,
melakukan kajian tentang data-data yang dikumpulkan sebagai bahan penyusunan
kurikulum. Data (informasi) yang dikumpulkan hendaknya valid dan reliabel
sehingga dapat digunakan sebagai dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan
penyusunan kurikulum. Data yang lemah akan mengakibatkan kesalahan dalam
pengambilan keputusan. Berdasarkan keputusan ini,disusunlah rencana yang
menyeluruh (komprehensif) tentang cara-cara mengatasimasalah yang ada.
Kedua, melakukan
implementasi atas keputusan yang dihasilkan padalangkah pertama. Dari proses
ini akan diperoleh data-data (informasi) baru yangselanjutnya dimanfaatkan
untuk mengevaluasi masalah-masalah yang muncul dilapangan sebagai upaya tindak
lanjut untuk memodifikasi/memperbaiki kurikulum.
2. Model
Pengembangan Kurikulum Rogers
Ada
beberapa model yang dikemukakan Rogers, yaitu jumlah dari model yang paling
sederhana sampai dengan komplit. Model-model tersebut disusun sedemikian rupa
sehingga model yang berikutnya sebenarnya merupakan penyempurnaan dari model-model sebelumnya.
Adapaun model-model tersebut ( ada empat model ) dapat dikemukakan sebagai
berikut :
Model
I (atau model yang paling sederhana ) mengambarkan bahwa kegiatan pendidikan
semata-mata terdiri atas kegiatan
memberikan informasi ( isi pelajaran )
dan ujian. Hal itu berdasarkan asumsi bahwa
pendidikan adalah evaluasi dan
evaluasi pendidikan, serta pengetahuan adalah akumulasi materi dan informasi . model tersebut
merupakan model tradisional yang masih dipergunakan.Model tersebut walaupun
sangat sederhana dan tidak memadai.
Model II dilakukan dengan menyempurnakan model I yaitu tentang metode dan organisasi
bahan pelajaran. Model II pengembangan kurikulum tersebut dapat di gambarkan
sebagai berikut :
![]() |
|||
Dalam pengembangan kurikulum pada model II diatas
sudah dipikirkan pemilihan metode yang efektif bagi berlangsungnya prosesnya
pengajaran. Di samping itu, bahan pelajaran juga disusun secara sistematis,
dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan dalamnya
suatu bahan pelajaran. Akan tetapi, model II belum memperhatikan masalah
teknologi pendidikan yang sangat
menunjang keberhasilan kegiatan
pengajaran.
Model III pengembangan kurikulum yaitu dengan memasukan unsur teknologi pendidikan
ke dalamnya. Hal itu bedasarkan pertimbangan bahwa teknologin pendidikan
merupakan factor yang sangat menunjang dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Dengan
memasukan unsur teknologi pendidikan.
Model IV pengembangan kurikulum merupakan
penyempurnaan model III, yiatu dengan memasukan unsur tujuan ke dalamnya.
Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain,baik
metode,organisasi bahan, teknologi pengajaran,isi pelajaran maupun kegiatan
penilain yang dilakukan.
B. Pengertian
Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Seringkali
kita bicara bahwa pendekatannya kurang tepat untuk masalah ini, sehingga
hasilnyapun kurang mencapai sasaran yang memuaskan, dan sebagainya. Disamping
itu,kita juga sering mengatakan bahwa
“dengan strategi yang tepat maka hasilnya akan lebih baik”. Dua
perkataan “pendekatan” dan “ strategi” ini sering kali membuat kita terkecoh
tentang mana kata yang harus digunakan. Untuk itu baiknya kita tinjau kedua
pengertian kata berikut.
Pada
dasarnya strategi dan pendekatan adalah berbeda. Perbedaannya terletak pada
jangkauan (cakupan) bahasanya. Hal ini berarti bahwa strategi lebih sempit
daripada pendekatan. Strategi pada dasarnya adalah siasat yang di terapkan
untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan pendekatan lebih menekankan pada
usaha dan penerapan langkah-langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu
strategi dan beberapa metode yang tepat, yang di jalankan sesuai dengan
langkah-langkah yang sistematik untuk memperoleh hasil kerja yang lebih baik.
Jadi,
pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan menerapkan strategi
dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang
sistematis untuk menghasilkan kurikulum
yang lebih baik. Ada berbagai macam pendekatan yang dapat digunakan dalam
mengembangkan kurikulum, diantaranya berikut ini.
1. Pendekatan
Bidang Studi
Pendekatan ini menggunakan bidang studi
atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum, misalnya matematika,
sains, sejarah, geografi, atau IPA, IPS, dan sebagainya seperti yang lazim kita
dapati dalam sistem pendidikan kita sekarang di semua sekolah dan universitas.
Di sini dapat dibedakan
“macro-organiser” “organizer” dan “micro-organizer”, misalnya :
Macro
Organizer : Matematika
Organizer
: Aljabar, Geometri, Kalkulus
Micro
Organizer : Aljabar I, Aljabar II, dan
sebagainya
Yang diutamakan dalam pendekatan ini
adalah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu. Tipe
organisasi ini sesuain dengan falsafah realisme.
Pendekatan ini paling mudah dibandingkan dengan pendekatan lainnya oleh sebab
disiplin ilmu telah jelas batasannya dan karena itu lebih mudah mempertanggung
jawabkan apa yang diajarkan. Kurikulum ini terutama didasarkan atas determinan
hakikat pengetahuan dengan mengabaikan ketiga determinan lainnya.
2. Pendekatan
yang berorientasi pada tujuan
Pertanyaan yang pertama kali muncul pada
pendekatan yang berorientasi pada tujuan adalah “tujuan apa yang akan di capai,
atau pengetahuan, keterampilan dan sikap apakah yang di harapkan dimiliki oleh
peserta didik setelah menyelesaikan kurikulum?” untuk menjawab pertanyaan
tersebut perlu dirumuskan tujuan dan pengetahuan, serta keterampilan dan sikap
yang diharapkan , secara jelas dan operasional . berdasarkan tujuan ini
kemudian ditetapkan materi pengajaran, kegiatan belajar mengajar atau materi
pengajarnya.
Pendekatan
yang berorentasi pada tujuan ini, menempatkan rumusan atau penerapan tujuan
yang hendak dicapai dalam posisi sentral, sebab tujuan adalah pemberi arah
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Apakah kelebihan dan kekurangan
pendekatan yang berorientasi pada tujuan? Kelebihan dari pendekatan
pengembangan kurikulum yang berorientasi
pada tujuan adalah:
a) Tujuan
yang ingin di capai jelas bagi penyusun kurikulum.
b) Tujuan
yang jelas yang jelas akan memberikan
arah yang jelas pula dalam menetapkan materi pelajaran, metode, jenis kegiatan
dan alat yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
c) Tujuan-tujuan
yang jelas itu juga akan memberikan arah dalam mengadakan penilaian terhadap
hasil yang dicapai.
d) Hasil penilaian yang terarah tersebut akan membantu
penyusunan kurikulum dalam mengadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
Meskipun pendekatan ini memiliki banyak kelebihan
jika dibandingkan dengan pendekatan berorientasi pada bahan, pendekatan ini
juga memiliki kelemahan, yaitu kesuliatan dalam merumuskan tujuan itu sendiri
(bagi guru). Apalagi jika tujuan
tersebut harus dirumuskan lebih khusus, jelas, operasional dan dapat di ukur.
Untuk merealisasikan maksud tersebut,
pihak guru di tuntut memiliki keahlian, pengalaman dan keterampilan dalam
perumusan tujuan khusus pengajaran. Jika tidak demikian, maka akan terwujud
rumusan tujuan khusus yang bersifat dangkal dan mekanistik.
3. Pendekatan
berorientasi pada bahan ajaran
Pertanyaan pertama yang muncul dalam
kaitannya dengan pendekatan yang berorientasi pada bahan adalah “ bahan apa
yang akan di berikan atau diajarkan kepada peserta didik?” pengembangan
kurikulum yang akan di terapkan dikelas mengacu pada bahan pengajaran.
Pendekatan ini di Indonesia di terapkan dalam kurikulum sebelum kurikulum 1975.
Bagaimana
halnya dengan kelebihan dan kekurangan yang berorientasi pada bahan pelajaran?
Kelebihan pendekatan yang berorientasi pada bahan adalah bahan pengajaran lebih
fleksibel dan bebas dalam menyusunnya, sebab tidak ada ketentuan yang pasti
dalam menentukan bahan pengajaran yang sesuai dengan tujuan. Kelemahannya adalah karena tujuan pengajaran
kurang jelas, sukar ditentukan pedoman
dalam menentukan metode yang sesuai untuk pengajaran. Demikian juga untuk
kebutuhan penilaian.
4. Pendekatan
Rekonstruksionisme
Pendekatan
ini juga disebut Rekonstruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada
masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan
penduduk, rasialisme, interdependensi global, kemiskinan, mala petaka akibat
kemajuan teknologi, perang dan lain-lain.
Dalam
gerakan rekonstruksionisme ini terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda
pandangannya terdapat tentang kurikulum, yakni rekonstruksionisme konservatif dan rekonstruksionisme radikal.
a) rekonstruksionisme
konservatif. Aliran ini menginginkan agar
pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun
masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling dihadapi
masyarakat.
Masalah-masalah
yang dapat bersifat lokal dan dapat dibicarakan di SD, ada pula yang bersifat
daerah, nasional, regional dan internasional bagi pelajar SD dan Perguruan
Tinggi. Dalam PBM-nya metode problem salving memegang peranan utama dengan
menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu.
Peranan
guru ialah sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change)
mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat.
Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan falsafah pragmatisme.
b)
rekonstruksionisme
radikal. Pendekatan ini berpendapat bahwa banyak
negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang
merupakan mayoritas masyarakat. Elite yang berkuasa (sering golongan industri,
militer, politik) mengadakan tekanan terhadap masa yang tak berdaya melalui
sistem pendidikan yang diatur demi tujuan itu. Golongan radikal ini
menganjurkan agar pendidikan formal maupun non-formal mengabdikan diri demi
tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang
lebih adil dan merata. Mereka berpendapat bahwa kurikulum yang sekedar mencari
pemecahan masalah sosial tidak memadai. Malasah sosial justru merupakan
indikator adanya masalah lain yang lebih mendalam mengenai struktur masyarakat.
Mereka berpendapat bahwa sekolah yang dikembangkan negara bersifat opresif dan
tidak humanistik serta digunakan sebagai alat golongan elit untuk
mempertahankan status quo.
Kedua
pendirian yang saling bertentangan ini, baik yang konservatif maupun radikal,
mempunyai unsur kesamaan. Masing-masing berpendirian bahwa missi sekolah, ialah
untuk mengubah dan memperbaiki masyarakat.
Perbedaannya
terletak dalam definisi atau tafsiran masing-masing tentang “perbaikan” dan
cara pendekatan terhadap masalah itu. Golongan konservatif bekerja dalam rangka
struktur yang ada untuk memperbaiki kualitas hidup. Mereka berasumsi bahwa
masalah-masalah sosial adalah hasil ciptaan manusia dan karena itu dapat
diatasi oleh manusia. Sebaliknya golongan radikal ingin merombak tata sosial
yang ada dan menciptakan tata sosial yang baru sama sekali untuk memperbaiki
mutu hidup, oleh sebab tata sosial yang ada tidak adil dan akan tetap tidak
adil.
5. Pendekatan
Humanistik
Kurikulum
ini berpusat pada siswa, jadi “student-centered”,
dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai
bagian integral dari proses belajar. Para pendidikan humanistik yakin, bahwa
kesejahteraan mental dan emosional siswa haris dipandang sentral dalam
kurikulum, agar belajar itu memberi hasil maksimal.
Hasil
penelitian menunjukan bahwa konsep diri siswa
berkolerasi tinggi dengan prestasi akademis. Siswa dengan konsep-diri rendah
lebih banyak mengalami kesulitan belajar dari pada siswa denagn konsep-diri
positif.
Pendidikan
yang berpusat pada siswa memfokuska kurikulum pada kebutuhan siswa baik
personal maupun sosial. Murid-murid SD misalnya diajarkan cara bergaul, saling
bertukar pengalaman, berkelakuan sopan santun, mengembangkan rasa percaya akan
kemampuan diri dan konsep diri yang sehat, dan sebagainya.
Di
Perguruan Tinggi topik-topik yang dapat dibicarakan antara lain mengenai cara
belajar mandiri, mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah lulus, membentuk
integrasi pribadi, dan sebagainya.
Pendekatan
humanistik dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi yang berikut:
a. Siswa
akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga-dirinya dikembangkan sepenuhnya.
b. Siswa
yang diturut sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa
bertanggung jawab atas keberhasilannya.
c. Hasil
belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling
percaya, saling membantu, saling mempedulikan dan bebas dari ketegangan yang
berlebihan.
d. Guru
yang berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab kepada siswa
atas kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap “apa sebab” dan
“bagaimana” mereka belajar.
e. Kepedulian
siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran
itu.
f. Evaluasi
diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.
Kurikulum Humanistik
didasarkan atas apa yang kadang-kadang disebut “psikologi humanistik” yang erat hubungannya dengan psikologi
lapangan (field psychology) dan teori kepribadian (khususnya Maslow). Seorang humanis dapat menganut
salah satu dari keempat falsafah pendidikan utama. Pendekatan Humanistik tampak
terutama dalam proses interaksi dalam kelas, dalam suasana belajar, dalam cara
menyajikan pelajaran, jadi bukan dalam orientasi falsafahnya.
6. Pendekatan
Accountability
Accountability
atau pertanggung jawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada
masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh yang penting dalam dunia
pendidikan. Namun, menurut banyak pengamat pendidikan Accountability ini telah
mendesak pendidikan dalam arti yang sebenarnya menjadi latihan belaka.
Dalam usaha mengembangkan standar
yang dapat dipertanggungjawabkan, pendekatan kurikulum beralih ke arah apa yang
disebut sistem yang tertutup atau model latihan.
Di bawah ini kami bandingkan sistem
yang accountable yang bersifat tertutup atau
sistem yang lebih terbuka.
Sistem
Tertutup – Latihan
|
Sistem Terbuka -
Pendidikan
|
|
Tujuan
|
Hasil belajar
lebih dahulu ditentukan berdasarkan standar yang dirumuskan secara spesifik,
siswa dilatih berkenalan sesuai dengan yang ditetapkan sekolah
|
Siswa belajar
tentang “cara belajar”, cara memecahkan masalah kompleks, mengambil keputusan
secara mandiri dan memberi penilaian etis moral secara pribadi
|
Membantu siswa
menyesuaikan diri dengan dunia sebagaimana adanya
|
Membantu siswa
berpartisipasi dalam proses pengembangan dunia, mecari kebenaran baru, dan
membangun dunia yang lebih baik dari pada yang sekarang
|
|
Proses
|
Menstransmisi
informasi dan keterampilan melalui latihan, ulangan, hafalan berdasarkan
teori stimulus-respon
|
Menjalankan
proses penelitian, menggunakan metode penemuan, mengajukan hipotesis untuk
mengungkapkan “realitas” baru
|
Peranan
Guru
|
Orang yang
berkedudukan otoriter yang menyampaikan pengetahuan dan keterampilan
|
Orang yang turut
belajar mencari pengetahuan, kebenaran, dan keadilan universal yang baru
|
motivasi
|
Ekstrinsik,
dengan menggunakan angka-angka pujian, hukuman, tekanan dan paksaan
|
Intrinsik,
dengan memupuk hasrat belajar, meneliti, menemukan pengetahuan baru,
melahirkan ide dan cara berpikir baru
|
Metode
Utama
|
Direktif:
ceramah, demonstrasi, latihan, praktek
|
Interaktif -
eksperimental
|
Domain
(Ranah) tingkatan
|
Kognitif,
psikomotor, tingkat rendah
|
Kognitif, afektif,
psikomotor tingkat tinggi
|
Hasil
Belajar Afektif
|
Siswa kaku,
tidak mudah berubah atau menyelesuaikan diri dengan ide atau situasi baru,
terkait dan tidak bebas untuk berubah
|
Siswa mempunyai
kebebasan batin dan kemampuan untuk berubah bila menghadapi informasi,
kenyataan atau situasi baru
|
Dalam sistem
tertutup keempat determinan (filosofis, sosiologis, psikologis, dan
pengetahuan) kebanyakan telah ditentukan sebelum sehingga kemungkinan
mengadakan perubahan sangat terbatas. Adakalanya sistem tertutup ini dapat
diterobos sewaktu-waktu berkat usaha individual dengan timbulnya hasil belajar
sampingan yang tidak direncanakan, sering dalam bidang afektif yang dapat
mengecewakan pengajar. Cara ini tidak menghasilkan perubahan kelakuan siswa,
karena perubahan kelakuan adalah proses individual, personal, dan internal dan
tidak dianjurkan secara langsung.
Kelemahan Sistem
Tertutup
Kelemahan-kelemahan
sistem tertutup ini, antara lain:
1) Sistem
ini terhadap perubahan, artinya sangat membatasi inisiatif lokal, misalnya guru
untuk mengubahnya. Perubahan hanya dalam tangan otoritas pusat yang menguasai
kurikulum itu.
2) Sistem
ini mudah disalah gunakan oleh mereka yang mengontrol pendidikan.
3) Sukar
menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan, kemampuan dan minat siswa secara
individual.
4) Sukar
untuk mengembangkan segi kognitif dan afektif tingkat tinggi.
Keuntungan Sistem Tertutup
Beberapa keuntungan sistem tertutup ini ialah:
1) Hasil
belajar dirumuskan dengan jelas dan keberhasilan belajar siswa dapat diukur
dengan mudah.
2) Guru,
siswa, dan orang tua jelas mengetahui apa yang diharapkan dari sekolah dan
dengan demikian dapat menghindari keraguan-keraguan, frustasi, dan perbedaan
tafsiran.
3) Ada
kemungkinan memberi penguasaan tuntas atas keterampilan pokok, pengetahuan, dan
keterampilan mekanis-teknis yang menimal bagi semua siswa.
4) Metode
mengajar yang sederhana serta alat yang terbatas telah memadai untuk mencapai
hasil yang efektif.
Sistem
Terbuka
Dalam
sistem terbuka keempat determinan itu senantiasa dapat berubah seirama dengan
perubahan yang dialami masyarakat, orangtua, siswa, dan guru yang berusaha
mempengaruhi sistem pendidikan berhubung dengan timbulnya pengetahuan baru dan
majunya teknologi.
Kelemahan sistem terbuka ini, antara lain:
1) Hasil
belajar tidak selalu dapat dirumuskan dalam bentuk yang dapat diukur dan oleh
sebab itu tidak dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang kemajuan siswa
maupun taraf pendidikan umumnya.
2) Sistem
penilaiannya sangat sukar bila pengajaran didasarkan atas metode pemecahan
masalah dan inkuiri, karena sering tidak ada satu jawaban yang tepat. Karena
itu penilaian berorintasi pada proses produk yang sering bersifat surjektif.
3) Kerap
kali sulit bagi siswa dan guru untuk menyesuaikan diri dengan sistem terbuka
bila terbiasa dengan sistem tertutup yang memandang guru sebagai sumber
satu-satunya yang mempunyai otoritas tentang apa yang benar dan yang salah.
Keuntungan
sistem ini ialah:
1) Dengan
sistem ini siswa “belajar tentang cara belajar”.
2) Sistem
ini mengutamakan pengembangan keterampilan berpikir, pemikiran kritis dan
analitis dan kreativitas pada tingkat lebih tinggi.
3) Sistem
ini mudah menyerap pengetahuan, teknologi, dan ide baru yang timbul
terus-menerus dalam dunia yang dinamis ini.
4) Interaksi
dalam kelas mengikuti proses demokratis.
5) Sistem
ini fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan, minat, dan hasrat siswa
secara individual.
Dari
analisis diatas mengenai sistem tertututp dan terbuka jelaslah bahwa kedua
sistem ini mengandung unsur-unsur yang menguntungkan yang dapat dimanfaatkan
oleh pengembang kurikulum. Jadi soalnya bukanlah memilih salah satu di
antaranya sebagai yang terbaik, melainkan untuk mempertimbangkan tujuan dan
dalam kondisi bagaimanakah suatu sistem lebih efektif. bila diinginkan
dipertanggung jawabkan tentang hasil pendidikan, maka kurikulum tetutup akan
lebih serasi. Akan tetapi bila diinginkan kurikulum yang dinamis, yang lebih
relavan dengan masalah-masalah sosial yang memerlukan keterampilan pemecahan
masalah, maka pilihan akan cenderung jatuh pada kurikulum terbuka.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keberadaan
model-model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan
pengembangan kurikulum dan dengan mempelajari model-model pengembangan
kurikulum dapat memudahkan dalam melakukan pengembangan kurikulum.
Pada
saat ini banyak para ahli yang mengemukakan tentang model-model pengembangan
kurikulum, tetapi setiap model pengembangan tersebut memiliki karakteristik
yang berbeda-beda, juga memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan
masing-masing model arahan pengembangannya berbeda-beda ada yang
menitikberatkan pada pengambil kebijaksanaan, pada perumusan tujuan, perumusan
isi pelajaran, pelaksanaan kurikulum itu sendiri dan evaluasi kurikulum.
Pemilihan
suatu model pengembangan kurikulum sebaiknya perlu disesuaikan dengan sistem
pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut dan mempertimbangkan
model pengembangan kurikulum yang sesuai dengan yang diharapkan.
Model-model
kurikulum akan berkembang terus seperti kurikulum yang terus berkembang sesuai
dengan kebutuhan.
B. Saran
Ø Sebagai
tenaga profesional guru dituntut untuk memiliki sejumlah pengetahuan yang
berhubungan dengan kurikulum karena kurikulum merupakan nadi penggerak dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. Hal ini dapat dilakukan melalui
pelatihan, penelitian atau memperkaya diri dengan melalui bahan bacaan,
internet dan sebagainya.
Ø Makalah
ini sangat terbatas dalam menyajikan model-model pengembangan kurikulum dan
masih banyak lagi model-model pengembangan kurikulum yang belum, oleh karena
itu perlu dicari tahu lagi yang lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad
dkk. Pengembangan Kurikulum. Bandung :
CV Pustaka Setia. 1998
Nasution.
Kurikulum dan Pengajaran. Bandung :
PT Bumi Aksara. 1989

Tidak ada komentar:
Posting Komentar