Kamis, 09 April 2015

Pendekatan scientifict



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu hal yang dianggap sangat penting bagi seluruh masyarakat, karena hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa pendidikan menjadikan seseorang mampu mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahui. Maka dari itu, pemerintah memberikan kewajiban memperoleh pendidikan yaitu yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1[1] yang menyebutkan bahwa tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.
Perlu adanya pengevaluasian Pendidikan secara dini untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh para siswanya. Akan tetapi, program pemeritah harus didukung oleh beberapa komponen penting yang terkait dengan pendidikan diantaranya adlah guru (tenaga pendidik), fasilitas, buku, dan sebagainya. Jika komponen tersebut sudah terpenuhi secara keseluruhan maka jaminan pendidikan akan semakin baik.
Dari beberapa komponen pendidikan terdapat komponen yang paling berpengaruh demi kemajuan peserta didik yaitu guru (tenaga pendidik). Guru tidak hanya memberikan pembelajaran tetapi mendidik siswanya agar menjadi orang yang lebih baik. Tidak hanya dalam segi kognitif tetapi dalam segi sikap dan keterampilan yang dimilikinya.
Dalam mendidik siswa, guru akan dihadapi dengan masalah strategi pembelajaran yang digunakan saat proses pembelajaran. Strategi tersebut akan berpengaruh pada sikap siswa menerima pembelajaran tersebut. Ada banyak sekali strategi pebelajaran yang terdiri dari beberapa model dan pendekatan pembelajaran, contohnya strategi pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran Quantum Learning, strategi pembelajaran inquiry, strategi pembelajaran berbasis masalah, strategi pembelajaran eksposistori, dan sebagainya. Dari beberapa strategi tersebut masih banyak yang menggunakan salah satunya saja dengan satu pendekatan dan satu metode pembelajaran. Padahal penggunaan strategi yang baik ialah penggunaan satu strategi melalui pendekatan dan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
 Sebelum mengacu pada satu strategi kita harus dapat menyesuaikan dengan kurikulum yang digunakan secara menyeluruh dan sesuai dengan tahun ajaran baru. Penggunaan kurikulum di Indonesia saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Perubahan tersebut dimulai sejak adanya presiden pertama yaitu Ir. Soekarno hingga pemerintahan saat ini.
Kurikulum yang digunakan pada saat ini adalah kurikulum 2013 yang mulai diimplementasikan pada tahun 2014. Kurikulum ini menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dengan melibatkan pendekatan pembelajaran ilmiah yang dapat digunakan oleh para pengajar (guru) khususnya pada matematika. Pada pembahasan tersebut kami akan menganalisis mengenai masalah keterkaitan proses pembelajaran kurikulum 2013 yang berjudul "Konsep Pendekatan Scientific pada Kurikulum 2013".

1.2. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendekatan scientific dalam matematika?
2.      Bagaimana perbedaan beberapa strategi dengan pendekatan scientific?
3.      Bagaimana proses pendekatan scientific dalam matematika pada kurikulum 2013?
4.      Strategi pembelajaran apa sajakah yang dapat digunakan pada pendekatan scientific dalam matematika?
5.      Adakah keterkaitan strategi pembelajaran yang digunakan pada pendekatan scientific dalam matematika?

1.3.Tujuan Masalah
1.      Memahami pengertian pendekatan scientific dalam matematika.
2.      Mengetahui dan memahami beberapa perbedaan strategi pembelajaran matematika pada kurikulum 2013.
3.      Memahami proses pembelajaran pendekatan scientific pada matematika.
4.      Mengetahui dan memahami strategi pembelajaran yang digunakan pada pendekatan scientific dalam matematika.
5.      Mengetahui keterkaitan antar strategi yang digunakan pada pendekatan scientific dalam matematika.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendekatan Scientific dalam Matematika
Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.[2]
Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka prinsip
pembelajaran yang digunakan:[3]
1.      Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2.      Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
3.      Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
4.      Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5.      Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6.      Daripembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7.      Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8.      Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9.      Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10.  pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11.  Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12.  pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
13.  Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14.  Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
Terkait standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi di atas, maka pembelajaran pada KTSP menjadi kurikulum 2013 terjadi perubahan yaitu cara atau strategi pembelajaran tradisional menuju strategi pembelajaran saintifik untuk semua mata pelajaran.  
Dari prinsip tersebut kita dapat melihat bahwa penggunaan strategi yang masih trasional hanya berpusat pada guru sedangkan siswanya hanya bersifat pasif. Untuk strategi pembelajaran saintifik pembelajaran dipusatkan pada siswa dengan guru sebagai fasilitator.
Pembelajaran saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang "ditemukan".[4]
Jadi, pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang menekankan active learning sebagai acuannya dengan beberapa proses mulai mengamati hingga menarik kesimpulan. Khususnya pendekatan saintifik pada KTSP hanya digunakan untuk mata pelajaran IPA, namun pada kurikulum 2013 pada semua mata pelajaran digunakan terutama matematika.
Hal itu disesuaikan dengan Permendikbu No 81A Tahun 2013 yaitu proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sehingga pendekatan saintifik lebih cocok digunakan karena semua ranah ada di dalam pendekatan tersebut.
2.2 Perbedaan Beberapa Strategi Pembelajaran dalam Matematika
            Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang guru terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karena itu, strategi maupun metode pembelajaran bersumber dari pendekatan tertentu.[5]
            Strategi maupun metode bersumber dari dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru dan pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkkan strategi pembelajaran langsung, sedangkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menurunkan strategi pembelajaran tidak langsung.[6]
            Jadi, menurut beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian dari pendekatan ialah tolok ukur suatu proses pembelajaran yang bersifat umum dibandingkan dengan metode pembelajaran. Pendekatan memiliki dua tolok ukur yang sangat penting yaitu guru sebagai pendidik dan siswa sebagai murid. Jika pendekatan berpusat melalui guru ataupun murid kedua-duanya akan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hanya saja, hal tersebut dilihat dari kurikulum yang digunakan serta implementasi kurikulum tersebut.
            Sebelum adanya pendekatan pembelajaran memungkinkan kita untuk lebih mengetahui strategi pembelajaran yang akan diberikan. Ada sepuluh strategi pembelajaran aktif-menyenangkan yang digagas dari KTSP yaitu Active Learning Bermuatan Karakter, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning (CTL), Strategi Pembelajaran Inkuiri, strategi pembelajaran Berbasis Masalah, strategi pembelajaran Ekspositori, PAKEM, Strategi Pembelajaran Inovatif, Strategi Pembelajaran Afektif, dan Quantum Learning.[7]
            Maka pengertian dari masing-masing strategi akan dijelaskan sebagai berikut :
a.      Active Learning Bermuatan Karakter
Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran memungkinkan peserta didik berperan secara aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi antar peserta didik ataupun peserta didik dengan guru dalam proses pembelajaran.[8]
b.      Cooperative Learning
Model pembelajaran cooperative learning adalah belajar kelompok. Kelompok disini merupakan rangkaian kegiatan belajara yang dilakukan oleh peserta didik dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
c.       Contextual Teaching and Learning (CTL)
Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menrapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
d.      Strategi Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga peserta didik dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
e.       Strategi pembelajaran Berbasis Masalah
PBL adalah suatu pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaian suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.
f.        Strategi pembelajaran Ekspositori
Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian materi pelajaran secara verbal oleh guru kepada peserta didik. Sebutan lain bagi strategi ini adalah ceramah, dikte, dialog, dan sejenisnya.
g.      Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) adalah pembelajaran berpola permainan (game) yang kemudian dikenal dengan model-model pembelajaran contohnya, Jigsaw, Problem Based Instruction (PBI), Think-Pair-and Share (TPS) dan sebagainya.
h.      Strategi Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif dapat diartikan sebagai pembelajaran yang sifatnya baru dan tidak seperti yang biasanya dilakukan.
i.        Strategi Pembelajaran Afektif
Yaitu strategi pembelajaran yang mampu membentuk sikap peserta didik melalui proses pembelajaran.
j.        Quantum Learning
Quantum diartkan sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya. Dalam hal ini, peserta didik dianalogikan sebagai interaksi, kurikulum dianalogikan sebagai materi, dan cara belajara dianalogikan sebagai kecepatan massa.
Berdasarkan beberapa pengertian strategi pembelajaran matematika, memiliki perbedaannya masing-masing. Namun, terdapat kesamaan yaitu berpusat pada siswa yang dapat membuat siswa tersebut menjadi belajar lebih aktif. 
Kelemahan dari cara memilih pendekatan dengan strategi yang beragam tentunya akan membingungkan guru yang akan mendidik siswanya. Selain itu, penggunaan strategi yang beragam dengan metode yang monoton akan membuat siswa merasa jenuh.
Maka dari itu, kita harus bisa merancang dan mempersiapkan pembelajaran dengan mulai dari menyusun RPP agar persiapan tersebut tidak membuat kita salah memberikan pembelajaran dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.3 Proses Pembelajaran melalui Pendekatan Scientific dalam Matematika
Proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dialnjutkan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta.
Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu sangat mungkin pendekatan saintifik ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara procedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat non imiah[9]
Maksudnya ialah proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik umumnya hanya melihat dari sisi ilmiah. Namun, sebenarnya ketika peserta didik terlibat dalam kegiatan tersebut secara tidak langsung guru memperhatikan tiap peserta didik dari mulai sikap dan keterampilannya.
            Pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut :[10]
a.       Mengamati (Observasi)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.
Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut :
·         Menentukan objek apa yang akan diobservasi
·         Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi.
·         Menentukan secara jela data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder.
·         Menentukan dimana tempat objek yang akan diobservasi.
·         Menentukan secara jelas bagaimana obervasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.
·         Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder. Video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.
b.      Menanya (Questioning)
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik utnuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak atau dibaca. Guru perlu membimbing pesert didik untuk dapat mengajukan pertanyaan : pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kapada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak.
c.       Mengumpulkan Informasi
Kegiatan mengumpulkan informasi merupakan tindak lanjut dar bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkaninformasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas wawancara dengan nara sumber dan sebagainya.adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lai, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan, mengumpukan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
d.      Menalar (Associating)
Kegiatan "mengasosiasi/mengolah informasi/menalar" dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaiakn dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkaneksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi
e.       Mencoba (Experimentil)
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama materi atau substansi yang sesuai.
Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.
f.       Membentuk Jejaring (Networking)
Setelah melakukan percobaan hingga tahap tindak lanjut, maka selanjutnya kita harus bisa menarik kesimpulan dari kegiatan mengolah data atau informasi yang telah ada.
Lalu berikutnya guru diharapkan member kesempatan kepada peserta didik utnuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola.
2.4 Strategi Pembelajaran yang Digunakan oleh Pendekatan Scientific dalam Matematika
            Strategi pembelajaran didapat dari suatu pendekatan yang telah ditentukan untuk  dapat mengaplikasikan ke dalam pendekatan scientific. Strategi-strategi itu terdiri dari:
2.4.1 Strategi pembelajaran berbasis proyek (Project Based learning)
            Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
            Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.
*      Keuntungan pembelajaran berbasis proyek bades learning
·         Memberikan pengalaman kepada peserta didikpembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
·         Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
·         Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.
·         Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
·         Memberikan pengalaman kepada peserta didikpembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
·         Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
·         Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.
·         Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
*      Kelemahan pembelajaran berbasis proyek based learning
·         Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
·         Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
·         Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas.
·         Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
·         Peserta didikyang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
·         Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
·         Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.
*      Langkah-langkah operasional pembelajaran berbasis proyek based learning
·         Penentuan pertanyaan mendasar.
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat member penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktifitas. Mengambil topic yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topic yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
·         Menyusun perencanaan proyek.
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa "memiliki" atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikanberbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
·         Menyusun jadual.
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadual aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain : (1) membuat timeline utnuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemillihan suatu cara.
·         Monitoring peserta didik dan kemajuan proyek
Pengajar bertanggungjawab melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaiakn proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain, pengajara berperan menjadi monitor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrikyang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
·         Menguji hasil.
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, member umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
·         Evaluasi pengalaman.
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadapa aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan da pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiri) utnuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.
*      System penilaian pembelajaran berbasis proyek based learning
·         Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.
·         Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.
*      Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
·         Kemampuan pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
·         Relevansi
Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
·         Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
2.4.2 Strategi pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning)
      Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pertama kali dipopulerkan oleh Barrows dan Tamblyn (1980) pada akhir abad ke 20.[11] Pada awalnya, PBL dikembangkan dalam dunia pendidikan kedokteran. Akan tetapi, pada saat ini PBL telah dipakai secara luas pada semua jenjang pendidikan.  PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.[12]
      Strategi pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) diembangkan dari filsafat konstruksionisme, yang menyatakan bahwa kebenaran merupakan kontruksi pengetahuan secara otonom. Artinya, peserta didik akan menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari seluuh pengetahuan yang telah dimiliki dan dari semua pengetahuan baru yang telah diperoleh.[13]
      Strategi berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah secara terbuka. Strategi pembelajaran berbasis masalah mengusung gagasan utama bahwa tujuan pembelajaran dapat tercapai jika kegiatan pendidikan dipusatkan pada tugas-tugas atau permasalahan yang otentik, relevan dan dipresentasikan dalam satu konteks. Dengan kata lain, tujuan utama pendidikan adalah memecahkan problem-problem kehidupan.
      Landasan utama berbasis masalah adalah kolaborativisme, yaitu satu perspektif yang berpendapan bahwa peserta didik akan menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari semua pengetahuan yang sudah dimilikinya, dan dari semuanya itu akan memperoleh hasil dari kegiatan berinteraksi dengan sesam individu.
Aspek terpenting dalam pembellajaran berbasis masalah adalah bahwa pembelajaran dimulai dengan permasalahan, dari permasalahan tersebut akan menentukan arah pembelajaran dalam kelompok. Dengan membuat permasalahan sebagai tumpuan pembelajaran, peserta didik didorong untuk mencari informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan.
Strategi pembelajaran berbasis masalah (SPMB) mempunyai tiga cirri utama[14] yang sekaligus membedakannya dengan strategi pembelajaran yang lain. Tiga cirri tersebut adalah sebagai berikut:
1.      SPMB mempunyai rangkaian aktivitas pembelajaran.
2.      Aktivitas pebelajaran diorientasikan pada penyelesaian masalah.
3.      Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah.
Hakikat masalah dalam pendekatan berbasis masalah berbeda dengan hakikat masalah dalam strategi pembelajaran inquiri. Perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai.
Dibawah ini adalah beberapa criteria pemilihan bahan pembelajaran dalam pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
-          Bahan pembelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict issue) yang bisa bersumber dari berita, rekaman, video dan lainnya.
-          Bahan pembelajaran yang bersifat familiar dengan peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengikutinya dengan baik.
-          Bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya.
-          Bahan yang mengandung tujuan atau kopetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
*   Nilai-nilai karakter dalam problem based learning, yaitu:
a)      Tanggug jawab
Mengingat asumsi dasar dibangunnya problem based learning adalah menyelesaikan masalah, sedangkan orang yang mempunyai komitmen tinggi untuk menyelesaikan masalah adalah orang-orang yang bertanggu jawab, maka nilai karakter inti dalam problem based learning adalah tanggung jawab.
b)      Kerja keras
Pembelajaran problem based learning secara ilmiah menanamkan nilai karakter berupa kerja keras.
c)       Toleransi dan Demokrasi
Penyelesaian masalah yang dikehendaki dalam pembelajaran problem based learning adalah penyelesaian masalah yang bersifat terbuka, dapat ditoleransi dan bersifat demokrasi.
2.4.3 Strategi pembelajaran penemuan (Discovery Learning)[15]
Pendukung utama pendekatan ini adalah Piaget dan Bruner, yakni penganut Psikologi kognitif dan Humanistik.
Belajar penemuan dapat juga disebut ‘Proses Pengalaman’. Langkah-langkah belajar proses pengalaman, adalah:
1)       Tindakan dalam instansi tertentu. Siswa melakukan tindakan dan mengamati pengaruh-pengaruhnya. Pengaruh-pengaruh tersebut mungkin sebagai ganjaran atau hukuman (operant conditioning), atau mungkin memberikan keterangan mengenai hubungan sebab akibat.
2)      Pemahaman kasus tertentu. Apabila keadaan yang sama muncul kembali, maka dia dapat mengantisipasi pengaruh yang bakal terjadi, dan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan terasakan.
3)      Generalisasi. Siswa membuat kesimpulan atas prinsip-prinsip umum berdasarkan pemahaman terhadap instansi tersebut.
4)      Tindakan dalam suasana baru. Siswa menerapkan prinsip dan mengantisipasi pengaruhnya.
Pendekatan pembelajaran penemuan dikembangkan menjadi strategi inquiri-discovery. Langkah-langkah pokok strategi ini adalah:[16]
a)      Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar peserta didik siap melaksanakan proses pembelajaran.
Beberapa hal yang yang dapat dilakukan dalam tahap orientasi adalah sebagai berikut :
ü  Menjelaskan topic, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat diacapai oleh peserta didik.
ü  Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah samapai dengan merumuskan kesimpulan.
ü  Menjelaskan pentingnya topic dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar peserta didik.
b)      Merumuskan Masalah
Merumuskan merupakan langkah membawa peserta didik pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh peserta didik. Peserta didik akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji.
c)      Mengajukan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Maka salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) setiap peserta didik adalah dengan mengajukan pertanyaan dengan guru hendaknya dapat mendorong peserta didik untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahn yang dikaji.
d)     Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dbutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
e)      Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data dan informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
f)       Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
2.5  Keterkaitan antar strategi Pembelajaran yang Digunakan oleh Pendekatan Scientific dalam Matematika
Pendekatan Scientifik adalah suatu pendekatan pada kurikulum 2013 yang telah dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran ke ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Maka dari itu, pendekatan scientific akan mencakup semua ranah tersebut.
Pendekatan scientific digunakan untuk semua mata pelajaran kecuali SD/MI yang menggunakan TEMATIK-INTEGRATIF. Dengan satu pendekatan yang mengarah pada saintifik, secara tidak langsung harus menyesuaikan dengan strategi pembelajarannya. Diantara strategi yang telah ada yaitu pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran Penemuan (Discovery) haruslah sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan.
Strategi dan pendekatan yang sudah tersusun dengan baik sebaiknya dapat direalisasikan dengan baik. Selain itu, kita haru berpedoman pada tujuan pembelajaran bukan hanya pada banyaknya metode yang memungkinkan peserta didik akan merasa bingung ataupun jenuh.
Program pemerintah harus kita dukung dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan era yang semakin modern. Pendekatan scientific selalu menekankan siswa untuk selalu melibatkan mereka pada kegiatan yang lakukan agar penerapannya bisa dilakukan pada kegiatan sehari-hari.




















BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan kami menyimpulkan :
1.         Pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang menekankan active learning sebagai acuannya dengan beberapa proses mulai mengamati hingga menarik kesimpulan.
2.         Ada sepuluh strategi pembelajaran aktif-menyenangkan yang digagas dari KTSP yaitu Active Learning Bermuatan Karakter, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning (CTL), Strategi Pembelajaran Inkuiri, strategi pembelajaran Berbasis Masalah, strategi pembelajaran Ekspositori, PAKEM, Strategi Pembelajaran Inovatif, Strategi Pembelajaran Afektif, dan Quantum Learning. Berdasarkan beberapa pengertian strategi pembelajaran matematika, memiliki perbedaannya masing-masing. Namun, terdapat kesamaan yaitu berpusat pada siswa yang dapat membuat siswa tersebut menjadi belajar lebih aktif. 
3.         Proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dialnjutkan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta.
4.         Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
5.         Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.
6.         Belajar penemuan dapat juga disebut ‘Proses Pengalaman’. Langkah-langkah belajar proses pengalaman, adalah:
a)          Tindakan dalam instansi tertentu. Siswa melakukan tindakan dan mengamati pengaruh-pengaruhnya. Pengaruh-pengaruh tersebut mungkin sebagai ganjaran atau hukuman (operant conditioning), atau mungkin memberikan keterangan mengenai hubungan sebab akibat.
b)         Pemahaman kasus tertentu. Apabila keadaan yang sama muncul kembali, maka dia dapat mengantisipasi pengaruh yang bakal terjadi, dan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan terasakan.
c)         Generalisasi. Siswa membuat kesimpulan atas prinsip-prinsip umum berdasarkan pemahaman terhadap instansi tersebut.
d)        Tindakan dalam suasana baru. Siswa menerapkan prinsip dan mengantisipasi pengaruhnya.
7.      Pendekatan scientific digunakan untuk semua mata pelajaran kecuali SD/MI yang menggunakan TEMATIK-INTEGRATIF. Dengan satu pendekatan yang mengarah pada saintifik, secara tidak langsung harus menyesuaikan dengan strategi pembelajarannya. Diantara strategi yang telah ada yaitu pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran Penemuan (Discovery) haruslah sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan.
3.2  Kritik dan Saran
Kami menyadari masih banyak kekurangan dari makalah ini. Sehingga kami mengharapkan kepada pembaca memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.








DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta:Gava Media
Hamalik, Oemar. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Junaedi, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Surabaya : Lapis PGMI.
Permendikbud Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses
Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum
Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya.
UUD 1945 Amandemen IV. 2004
Wina, Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran Beorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana



[1]UUD 1945 Amandemen IV. 2004. Hal-21.
[2]Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses. Hal. 1
[3] Ibid. hal.2
[4] Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta : Gava Media. hlm. 51.
[5] Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 15.
[6]Roy Killen dalam Hamruni (2009)dalam Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 15.
[7] Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 11
[8] Hamruni dalam Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter.  Bandung : Remaja Rosdakarya. hlm. 36.
[9] Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurkulum 2013. Yogyakarta : Gava Media. hlm. 59
[10] Ibid. hlm. 60.
[11] Wina, Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran Beorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.
[12] Hamruni (2009)dalam Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 129
[13] Ibid.
[14] Wina Sanjaya(2007)dalam Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 131
[15] Hamalik, Oemar. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara. hlm. 131
[16] Junaedi, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Surabaya : Lapis PGMI. paket 6.hlm.13-15.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar