PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu hal yang
dianggap sangat penting bagi seluruh masyarakat, karena hal tersebut tidak
menutup kemungkinan bahwa pendidikan menjadikan seseorang mampu mengetahui apa
yang sebelumnya belum diketahui. Maka dari itu, pemerintah memberikan kewajiban
memperoleh pendidikan yaitu yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1[1]
yang menyebutkan bahwa tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.
Perlu adanya pengevaluasian Pendidikan secara
dini untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh para siswanya. Akan tetapi,
program pemeritah harus didukung oleh beberapa komponen penting yang terkait
dengan pendidikan diantaranya adlah guru (tenaga pendidik), fasilitas, buku,
dan sebagainya. Jika komponen tersebut sudah terpenuhi secara keseluruhan maka
jaminan pendidikan akan semakin baik.
Dari beberapa komponen pendidikan
terdapat komponen yang paling berpengaruh demi kemajuan peserta didik yaitu
guru (tenaga pendidik). Guru tidak hanya memberikan pembelajaran tetapi
mendidik siswanya agar menjadi orang yang lebih baik. Tidak hanya dalam segi
kognitif tetapi dalam segi sikap dan keterampilan yang dimilikinya.
Dalam mendidik siswa, guru akan dihadapi
dengan masalah strategi pembelajaran yang digunakan saat proses pembelajaran.
Strategi tersebut akan berpengaruh pada sikap siswa menerima pembelajaran
tersebut. Ada banyak sekali strategi pebelajaran yang terdiri dari beberapa
model dan pendekatan pembelajaran, contohnya strategi pembelajaran kontekstual,
strategi pembelajaran Quantum Learning, strategi pembelajaran inquiry, strategi
pembelajaran berbasis masalah, strategi pembelajaran eksposistori, dan
sebagainya. Dari beberapa strategi tersebut masih banyak yang menggunakan salah
satunya saja dengan satu pendekatan dan satu metode pembelajaran. Padahal
penggunaan strategi yang baik ialah penggunaan satu strategi melalui pendekatan
dan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
Sebelum
mengacu pada satu strategi kita harus dapat menyesuaikan dengan kurikulum yang
digunakan secara menyeluruh dan sesuai dengan tahun ajaran baru. Penggunaan
kurikulum di Indonesia saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Perubahan
tersebut dimulai sejak adanya presiden pertama yaitu Ir. Soekarno hingga
pemerintahan saat ini.
Kurikulum yang digunakan pada saat ini
adalah kurikulum 2013 yang mulai diimplementasikan pada tahun 2014. Kurikulum
ini menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dengan melibatkan pendekatan
pembelajaran ilmiah yang dapat digunakan oleh para pengajar (guru) khususnya
pada matematika. Pada pembahasan tersebut kami akan menganalisis mengenai masalah
keterkaitan proses pembelajaran kurikulum 2013 yang berjudul "Konsep
Pendekatan Scientific pada Kurikulum 2013".
1.2.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
pendekatan scientific dalam matematika?
2.
Bagaimana perbedaan
beberapa strategi dengan pendekatan scientific?
3.
Bagaimana proses
pendekatan scientific dalam matematika pada kurikulum 2013?
4.
Strategi pembelajaran
apa sajakah yang dapat digunakan pada pendekatan scientific dalam matematika?
5.
Adakah keterkaitan strategi
pembelajaran yang digunakan pada pendekatan scientific dalam matematika?
1.3.Tujuan
Masalah
1.
Memahami pengertian
pendekatan scientific dalam matematika.
2.
Mengetahui dan memahami
beberapa perbedaan strategi pembelajaran matematika pada kurikulum 2013.
3.
Memahami proses
pembelajaran pendekatan scientific pada matematika.
4.
Mengetahui dan memahami
strategi pembelajaran yang digunakan pada pendekatan scientific dalam
matematika.
5.
Mengetahui keterkaitan
antar strategi yang digunakan pada pendekatan scientific dalam matematika.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Pendekatan Scientific dalam Matematika
Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,
dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan
melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta
penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
ketercapaian kompetensi lulusan.[2]
Sesuai dengan Standar
Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka prinsip
pembelajaran
yang digunakan:[3]
1. Dari
peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2. Dari
guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
3. Dari
pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan
ilmiah;
4. Dari
pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5. Dari
pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6. Daripembelajaran
yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang
kebenarannya multi dimensi;
7. Dari
pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8. Peningkatan
dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan
mental (softskills);
9. Pembelajaran
yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar
sepanjang hayat;
10. pembelajaran
yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung
tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri
handayani);
11. Pembelajaran
yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12. pembelajaran
yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa,
dan di mana saja adalah kelas.
13. Pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran; dan
14. Pengakuan
atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
Terkait standar
Kompetensi Lulusan dan Standar Isi di atas, maka pembelajaran pada KTSP menjadi
kurikulum 2013 terjadi perubahan yaitu cara atau strategi pembelajaran
tradisional menuju strategi pembelajaran saintifik untuk semua mata pelajaran.
Dari prinsip tersebut
kita dapat melihat bahwa penggunaan strategi yang masih trasional hanya
berpusat pada guru sedangkan siswanya hanya bersifat pasif. Untuk strategi
pembelajaran saintifik pembelajaran dipusatkan pada siswa dengan guru sebagai
fasilitator.
Pembelajaran saintifik
adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik
secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan
mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah,
mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan teknik,
menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau
prinsip yang "ditemukan".[4]
Jadi, pendekatan
saintifik merupakan proses pembelajaran yang menekankan active learning sebagai
acuannya dengan beberapa proses mulai mengamati hingga menarik kesimpulan. Khususnya
pendekatan saintifik pada KTSP hanya digunakan untuk mata pelajaran IPA, namun
pada kurikulum 2013 pada semua mata pelajaran digunakan terutama matematika.
Hal itu disesuaikan
dengan Permendikbu No 81A Tahun 2013 yaitu proses pembelajaran harus menyentuh
tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sehingga pendekatan
saintifik lebih cocok digunakan karena semua ranah ada di dalam pendekatan
tersebut.
2.2 Perbedaan
Beberapa Strategi Pembelajaran dalam Matematika
Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang guru
terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang
terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karena itu, strategi
maupun metode pembelajaran bersumber dari pendekatan tertentu.[5]
Strategi maupun metode bersumber dari dua pendekatan
dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru dan pendekatan
yang berpusat pada peserta didik. Pendekatan yang berpusat pada guru
menurunkkan strategi pembelajaran langsung, sedangkan pembelajaran yang
berpusat pada peserta didik menurunkan strategi pembelajaran tidak langsung.[6]
Jadi, menurut beberapa pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa pengertian dari pendekatan ialah tolok ukur suatu proses
pembelajaran yang bersifat umum dibandingkan dengan metode pembelajaran.
Pendekatan memiliki dua tolok ukur yang sangat penting yaitu guru sebagai
pendidik dan siswa sebagai murid. Jika pendekatan berpusat melalui guru ataupun
murid kedua-duanya akan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hanya
saja, hal tersebut dilihat dari kurikulum yang digunakan serta implementasi
kurikulum tersebut.
Sebelum adanya pendekatan pembelajaran memungkinkan kita
untuk lebih mengetahui strategi pembelajaran yang akan diberikan. Ada sepuluh
strategi pembelajaran aktif-menyenangkan yang digagas dari KTSP yaitu Active
Learning Bermuatan Karakter, Cooperative Learning, Contextual Teaching and
Learning (CTL), Strategi Pembelajaran Inkuiri, strategi pembelajaran Berbasis
Masalah, strategi pembelajaran Ekspositori, PAKEM, Strategi Pembelajaran
Inovatif, Strategi Pembelajaran Afektif, dan Quantum Learning.[7]
Maka pengertian dari masing-masing strategi akan
dijelaskan sebagai berikut :
a.
Active Learning
Bermuatan Karakter
Pembelajaran aktif
adalah segala bentuk pembelajaran memungkinkan peserta didik berperan secara
aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi antar peserta
didik ataupun peserta didik dengan guru dalam proses pembelajaran.[8]
b.
Cooperative Learning
Model
pembelajaran cooperative learning adalah belajar kelompok. Kelompok
disini merupakan rangkaian kegiatan belajara yang dilakukan oleh peserta didik
dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan.
c.
Contextual Teaching and
Learning (CTL)
Strategi
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan strategi
pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara
penuh untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelari dengan
realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menrapkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
d.
Strategi Pembelajaran
Inkuiri
Pembelajaran inkuiri
adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan peserta didik secara
maksimal untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan
analitis, sehingga peserta didik dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan
penuh percaya diri.
e.
Strategi pembelajaran
Berbasis Masalah
PBL
adalah suatu pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaian suatu masalah,
tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan
baru untuk dapat menyelesaikannya.
f.
Strategi pembelajaran
Ekspositori
Strategi
pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan pada
proses penyampaian materi pelajaran secara verbal oleh guru kepada peserta
didik. Sebutan lain bagi strategi ini adalah ceramah, dikte, dialog, dan
sejenisnya.
g.
Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
Pembelajaran
Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
(PAKEM) adalah pembelajaran berpola permainan (game) yang kemudian
dikenal dengan model-model pembelajaran contohnya, Jigsaw, Problem Based
Instruction (PBI), Think-Pair-and Share (TPS) dan sebagainya.
h.
Strategi Pembelajaran
Inovatif
Pembelajaran
inovatif dapat diartikan sebagai pembelajaran yang sifatnya baru dan tidak
seperti yang biasanya dilakukan.
i.
Strategi Pembelajaran
Afektif
Yaitu
strategi pembelajaran yang mampu membentuk sikap peserta didik melalui proses
pembelajaran.
j.
Quantum Learning
Quantum
diartkan sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya. Dalam
hal ini, peserta didik dianalogikan sebagai interaksi, kurikulum dianalogikan
sebagai materi, dan cara belajara dianalogikan sebagai kecepatan massa.
Berdasarkan
beberapa pengertian strategi pembelajaran matematika, memiliki perbedaannya
masing-masing. Namun, terdapat kesamaan yaitu berpusat pada siswa yang dapat
membuat siswa tersebut menjadi belajar lebih aktif.
Kelemahan
dari cara memilih pendekatan dengan strategi yang beragam tentunya akan
membingungkan guru yang akan mendidik siswanya. Selain itu, penggunaan strategi
yang beragam dengan metode yang monoton akan membuat siswa merasa jenuh.
Maka
dari itu, kita harus bisa merancang dan mempersiapkan pembelajaran dengan mulai
dari menyusun RPP agar persiapan tersebut tidak membuat kita salah memberikan
pembelajaran dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.3 Proses
Pembelajaran melalui Pendekatan Scientific dalam Matematika
Proses pembelajaran
dengan pendekatan saintifik meliputi menggali informasi melalui pengamatan,
bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data
atau informasi, dialnjutkan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan
mencipta.
Untuk mata pelajaran,
materi, atau situasi tertentu sangat mungkin pendekatan saintifik ini tidak
selalu tepat diaplikasikan secara procedural. Pada kondisi seperti ini, tentu
saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat
ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat non imiah[9]
Maksudnya ialah proses
pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik umumnya hanya melihat dari sisi
ilmiah. Namun, sebenarnya ketika peserta didik terlibat dalam kegiatan tersebut
secara tidak langsung guru memperhatikan tiap peserta didik dari mulai sikap
dan keterampilannya.
Pendekatan saintifik dalam
pembelajaran disajikan sebagai berikut :[10]
a.
Mengamati (Observasi)
Metode
mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull
learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan
objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah
pelaksanaannya.
Kegiatan
mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti
berikut :
·
Menentukan objek apa
yang akan diobservasi
·
Membuat pedoman
observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi.
·
Menentukan secara jela
data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder.
·
Menentukan dimana
tempat objek yang akan diobservasi.
·
Menentukan secara jelas
bagaimana obervasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah
dan lancar.
·
Menentukan cara dan
melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan,
kamera, tape recorder. Video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.
b.
Menanya (Questioning)
Dalam
kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik
utnuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak atau dibaca. Guru perlu
membimbing pesert didik untuk dapat mengajukan pertanyaan : pertanyaan tentang
yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kapada yang abstrak berkenaan
dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak.
c.
Mengumpulkan Informasi
Kegiatan
mengumpulkan informasi merupakan tindak lanjut dar bertanya. Kegiatan ini
dilakukan dengan menggali dan mengumpulkaninformasi dari berbagai sumber
melalui berbagai cara. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, aktivitas
mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain
buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas wawancara dengan nara sumber dan
sebagainya.adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap teliti,
jujur, sopan, menghargai pendapat orang lai, kemampuan berkomunikasi,
menerapkan kemampuan, mengumpukan informasi melalui berbagai cara yang
dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
d.
Menalar (Associating)
Kegiatan
"mengasosiasi/mengolah informasi/menalar" dalam kegiatan pembelajaran
sebagaimana disampaiakn dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, adalah
memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan
mengumpulkaneksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan
mengumpulkan informasi
e.
Mencoba (Experimentil)
Untuk
memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba
atau melakukan percobaan, terutama materi atau substansi yang sesuai.
Kegiatan
pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga
tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.
f.
Membentuk Jejaring
(Networking)
Setelah
melakukan percobaan hingga tahap tindak lanjut, maka selanjutnya kita harus
bisa menarik kesimpulan dari kegiatan mengolah data atau informasi yang telah
ada.
Lalu
berikutnya guru diharapkan member kesempatan kepada peserta didik utnuk
mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan
melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari
informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola.
2.4 Strategi
Pembelajaran yang Digunakan oleh Pendekatan Scientific dalam Matematika
Strategi pembelajaran didapat dari suatu pendekatan yang
telah ditentukan untuk dapat
mengaplikasikan ke dalam pendekatan scientific. Strategi-strategi itu terdiri
dari:
2.4.1
Strategi pembelajaran berbasis proyek (Project Based learning)
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project
Based Learning=PjBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan
proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian,
interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil
belajar.
Pembelajaran
Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang
diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL,
proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a
guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek
kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.
·
Memberikan
pengalaman kepada peserta didikpembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi
proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan
untuk menyelesaikan tugas.
·
Menyediakan
pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang
untuk berkembang sesuai dunia nyata.
·
Melibatkan
para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan
pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.
·
Membuat
suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik
menikmati proses pembelajaran.
·
Memberikan
pengalaman kepada peserta didikpembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi
proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan
untuk menyelesaikan tugas.
·
Menyediakan
pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang
untuk berkembang sesuai dunia nyata.
·
Melibatkan
para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan
pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.
·
Membuat
suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik
menikmati proses pembelajaran.
·
Memerlukan
banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
·
Membutuhkan
biaya yang cukup banyak.
·
Banyak
instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur
memegang peran utama di kelas.
·
Banyaknya
peralatan yang harus disediakan.
·
Peserta
didikyang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan
mengalami kesulitan.
·
Ada
kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
·
Ketika
topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan
peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.
·
Penentuan
pertanyaan mendasar.
Pembelajaran
dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat member
penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktifitas. Mengambil topic yang
sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi
mendalam. Pengajar berusaha agar topic yang diangkat relevan untuk para peserta
didik.
·
Menyusun
perencanaan proyek.
Perencanaan
dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian
peserta didik diharapkan akan merasa "memiliki" atas proyek tersebut.
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat
mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara
mengintegrasikanberbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan
yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
·
Menyusun
jadual.
Pengajar dan peserta didik secara
kolaboratif menyusun jadual aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas
pada tahap ini antara lain : (1) membuat timeline utnuk menyelesaikan proyek,
(2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar
merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat
cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk
membuat penjelasan (alasan) tentang pemillihan suatu cara.
·
Monitoring
peserta didik dan kemajuan proyek
Pengajar
bertanggungjawab melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama
menyelesaiakn proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta
didik pada setiap proses. Dengan kata lain, pengajara berperan menjadi monitor
bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah
rubrikyang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
·
Menguji
hasil.
Penilaian
dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan
dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, member umpan balik
tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar
dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
·
Evaluasi
pengalaman.
Pada akhir
proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadapa
aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan
baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta
untuk mengungkapkan perasaan da pengalamannya selama menyelesaikan proyek.
Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki
kinerja selama proses pembelajaran sehingga pada akhirnya ditemukan suatu
temuan baru (new inquiri) utnuk menjawab permasalahan yang diajukan pada
tahap pertama pembelajaran.
·
Penilaian
proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan
dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak
dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian
data.
·
Penilaian
proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan
penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran
tertentu secara jelas.
·
Kemampuan
pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam
memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta
penulisan laporan.
·
Relevansi
Kesesuaian dengan mata pelajaran,
dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam
pembelajaran.
·
Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik
harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa
petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
2.4.2
Strategi pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
pertama kali dipopulerkan oleh Barrows dan Tamblyn (1980) pada akhir abad ke
20.[11] Pada awalnya, PBL
dikembangkan dalam dunia pendidikan kedokteran. Akan tetapi, pada saat ini PBL
telah dipakai secara luas pada semua jenjang pendidikan. PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah
itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.[12]
Strategi pembelajaran berbasis masalah (Problem
Based Learning) diembangkan dari filsafat konstruksionisme, yang menyatakan
bahwa kebenaran merupakan kontruksi pengetahuan secara otonom. Artinya, peserta
didik akan menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari seluuh
pengetahuan yang telah dimiliki dan dari semua pengetahuan baru yang telah
diperoleh.[13]
Strategi berbasis masalah adalah strategi
pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah secara terbuka. Strategi
pembelajaran berbasis masalah mengusung gagasan utama bahwa tujuan pembelajaran
dapat tercapai jika kegiatan pendidikan dipusatkan pada tugas-tugas atau
permasalahan yang otentik, relevan dan dipresentasikan dalam satu konteks.
Dengan kata lain, tujuan utama pendidikan adalah memecahkan problem-problem
kehidupan.
Landasan utama berbasis masalah adalah kolaborativisme,
yaitu satu perspektif yang berpendapan bahwa peserta didik akan menyusun
pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari semua pengetahuan yang sudah
dimilikinya, dan dari semuanya itu akan memperoleh hasil dari kegiatan
berinteraksi dengan sesam individu.
Aspek
terpenting dalam pembellajaran berbasis masalah adalah bahwa pembelajaran
dimulai dengan permasalahan, dari permasalahan tersebut akan menentukan arah
pembelajaran dalam kelompok. Dengan membuat permasalahan sebagai tumpuan
pembelajaran, peserta didik didorong untuk mencari informasi yang diperlukan
untuk menyelesaikan permasalahan.
Strategi
pembelajaran berbasis masalah (SPMB) mempunyai tiga cirri utama[14] yang sekaligus
membedakannya dengan strategi pembelajaran yang lain. Tiga cirri tersebut
adalah sebagai berikut:
1.
SPMB
mempunyai rangkaian aktivitas pembelajaran.
2.
Aktivitas
pebelajaran diorientasikan pada penyelesaian masalah.
3.
Pemecahan
masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah.
Hakikat
masalah dalam pendekatan berbasis masalah berbeda dengan hakikat masalah dalam
strategi pembelajaran inquiri. Perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah
serta tujuan yang ingin dicapai.
Dibawah
ini adalah beberapa criteria pemilihan bahan pembelajaran dalam pembelajaran berbasis
masalah, yaitu:
-
Bahan
pembelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict
issue) yang bisa bersumber dari berita, rekaman, video dan lainnya.
-
Bahan
pembelajaran yang bersifat familiar dengan peserta didik, sehingga peserta
didik dapat mengikutinya dengan baik.
-
Bahan
yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa
manfaatnya.
-
Bahan
yang mengandung tujuan atau kopetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik
sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
a) Tanggug jawab
Mengingat
asumsi dasar dibangunnya problem based learning adalah menyelesaikan
masalah, sedangkan orang yang mempunyai komitmen tinggi untuk menyelesaikan
masalah adalah orang-orang yang bertanggu jawab, maka nilai karakter inti dalam
problem based learning adalah tanggung jawab.
b) Kerja keras
Pembelajaran problem based learning
secara ilmiah menanamkan nilai karakter berupa kerja keras.
c) Toleransi
dan Demokrasi
Penyelesaian masalah yang dikehendaki
dalam pembelajaran problem based learning adalah penyelesaian masalah
yang bersifat terbuka, dapat ditoleransi dan bersifat demokrasi.
2.4.3
Strategi pembelajaran penemuan (Discovery Learning)[15]
Pendukung
utama pendekatan ini adalah Piaget dan Bruner, yakni penganut Psikologi
kognitif dan Humanistik.
Belajar
penemuan dapat juga disebut ‘Proses Pengalaman’. Langkah-langkah belajar proses
pengalaman, adalah:
1) Tindakan dalam instansi tertentu. Siswa
melakukan tindakan dan mengamati pengaruh-pengaruhnya. Pengaruh-pengaruh
tersebut mungkin sebagai ganjaran atau hukuman (operant conditioning), atau
mungkin memberikan keterangan mengenai hubungan sebab akibat.
2) Pemahaman kasus tertentu. Apabila
keadaan yang sama muncul kembali, maka dia dapat mengantisipasi pengaruh yang
bakal terjadi, dan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan terasakan.
3) Generalisasi. Siswa membuat kesimpulan
atas prinsip-prinsip umum berdasarkan pemahaman terhadap instansi tersebut.
4) Tindakan dalam suasana baru. Siswa
menerapkan prinsip dan mengantisipasi pengaruhnya.
Pendekatan
pembelajaran penemuan dikembangkan menjadi strategi inquiri-discovery.
Langkah-langkah pokok strategi ini adalah:[16]
a)
Orientasi
Langkah orientasi
adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif.
Pada langkah ini guru mengondisikan agar peserta didik siap melaksanakan proses
pembelajaran.
Beberapa hal yang yang
dapat dilakukan dalam tahap orientasi adalah sebagai berikut :
ü Menjelaskan
topic, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat diacapai oleh peserta
didik.
ü Menjelaskan
pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai
tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap
langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah samapai dengan merumuskan
kesimpulan.
ü Menjelaskan
pentingnya topic dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka
memberikan motivasi belajar peserta didik.
b)
Merumuskan Masalah
Merumuskan merupakan
langkah membawa peserta didik pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.
Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh peserta didik. Peserta didik akan
memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan
masalah yang hendak dikaji.
c)
Mengajukan hipotesis
Hipotesis adalah
jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban
sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu
untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Maka
salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan menebak
(berhipotesis) setiap peserta didik adalah dengan mengajukan pertanyaan dengan
guru hendaknya dapat mendorong peserta didik untuk dapat merumuskan jawaban
sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari
suatu permasalahn yang dikaji.
d)
Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data
adalah aktivitas menjaring informasi yang dbutuhkan untuk menguji hipotesis
yang diajukan.
e)
Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis
adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data dan
informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
f)
Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan
adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian
hipotesis.
2.5
Keterkaitan antar strategi
Pembelajaran yang Digunakan oleh Pendekatan Scientific dalam Matematika
Pendekatan
Scientifik adalah suatu pendekatan pada kurikulum 2013 yang telah dirancang
untuk mencapai tujuan pembelajaran ke ranah sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Maka dari itu, pendekatan scientific akan mencakup semua ranah
tersebut.
Pendekatan
scientific digunakan untuk semua mata pelajaran kecuali SD/MI yang menggunakan
TEMATIK-INTEGRATIF. Dengan satu pendekatan yang mengarah pada saintifik, secara
tidak langsung harus menyesuaikan dengan strategi pembelajarannya. Diantara
strategi yang telah ada yaitu pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran
berbasis proyek, dan pembelajaran Penemuan (Discovery) haruslah sesuai dengan
pokok bahasan yang akan diajarkan.
Strategi
dan pendekatan yang sudah tersusun dengan baik sebaiknya dapat direalisasikan
dengan baik. Selain itu, kita haru berpedoman pada tujuan pembelajaran bukan
hanya pada banyaknya metode yang memungkinkan peserta didik akan merasa bingung
ataupun jenuh.
Program
pemerintah harus kita dukung dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan era
yang semakin modern. Pendekatan scientific selalu menekankan siswa untuk selalu
melibatkan mereka pada kegiatan yang lakukan agar penerapannya bisa dilakukan
pada kegiatan sehari-hari.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan yang telah dipaparkan kami menyimpulkan :
1.
Pendekatan saintifik
adalah pembelajaran yang menekankan active learning sebagai acuannya
dengan beberapa proses mulai mengamati hingga menarik kesimpulan.
2.
Ada sepuluh strategi
pembelajaran aktif-menyenangkan yang digagas dari KTSP yaitu Active Learning
Bermuatan Karakter, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning
(CTL), Strategi Pembelajaran Inkuiri, strategi pembelajaran Berbasis Masalah,
strategi pembelajaran Ekspositori, PAKEM, Strategi Pembelajaran Inovatif,
Strategi Pembelajaran Afektif, dan Quantum Learning. Berdasarkan beberapa
pengertian strategi pembelajaran matematika, memiliki perbedaannya
masing-masing. Namun, terdapat kesamaan yaitu berpusat pada siswa yang dapat
membuat siswa tersebut menjadi belajar lebih aktif.
3.
Proses pembelajaran
dengan pendekatan saintifik meliputi menggali informasi melalui pengamatan,
bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data
atau informasi, dialnjutkan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan
mencipta.
4.
Pembelajaran
Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metode pembelajaran
yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan
eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan
berbagai bentuk hasil belajar.
5.
Problem
Based Learning
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu
masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan
pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.
6.
Belajar
penemuan dapat juga disebut ‘Proses Pengalaman’. Langkah-langkah belajar proses
pengalaman, adalah:
a)
Tindakan dalam instansi tertentu. Siswa
melakukan tindakan dan mengamati pengaruh-pengaruhnya. Pengaruh-pengaruh
tersebut mungkin sebagai ganjaran atau hukuman (operant conditioning), atau
mungkin memberikan keterangan mengenai hubungan sebab akibat.
b)
Pemahaman
kasus tertentu. Apabila keadaan yang sama muncul kembali, maka dia dapat
mengantisipasi pengaruh yang bakal terjadi, dan konsekuensi-konsekuensi apa
yang akan terasakan.
c)
Generalisasi.
Siswa membuat kesimpulan atas prinsip-prinsip umum berdasarkan pemahaman
terhadap instansi tersebut.
d)
Tindakan
dalam suasana baru. Siswa menerapkan prinsip dan mengantisipasi pengaruhnya.
7. Pendekatan
scientific digunakan untuk semua mata pelajaran kecuali SD/MI yang menggunakan
TEMATIK-INTEGRATIF. Dengan satu pendekatan yang mengarah pada saintifik, secara
tidak langsung harus menyesuaikan dengan strategi pembelajarannya. Diantara
strategi yang telah ada yaitu pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran
berbasis proyek, dan pembelajaran Penemuan (Discovery) haruslah sesuai dengan
pokok bahasan yang akan diajarkan.
3.2
Kritik dan Saran
Kami menyadari masih
banyak kekurangan dari makalah ini. Sehingga kami mengharapkan kepada pembaca
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.
DAFTAR
PUSTAKA
Daryanto. 2014.
Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta:Gava Media
Hamalik,
Oemar. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Junaedi, dkk. 2008.
Strategi Pembelajaran. Surabaya : Lapis PGMI.
Permendikbud Nomor 64
Tahun 2013 tentang Standar Isi
Permendikbud Nomor 65
Tahun 2013 tentang Standar Proses
Permendikbud Nomor 66
Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Permendikbud Nomor 81a
Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum
Suyadi. 2013. Strategi
Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya.
UUD 1945 Amandemen IV.
2004
Wina, Sanjaya. 2008.
Strategi Pembelajaran Beorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana
[4]
Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik
Kurikulum 2013. Yogyakarta : Gava Media. hlm. 51.
[5]
Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan
Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 15.
[6]Roy Killen dalam Hamruni (2009)dalam Suyadi. 2013. Strategi
Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 15.
[7]
Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan
Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 11
[8]
Hamruni dalam Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran
Pendidikan Karakter. Bandung : Remaja
Rosdakarya. hlm. 36.
[9]
Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurkulum
2013. Yogyakarta : Gava Media. hlm. 59
[11]
Wina, Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran Beorientasi
Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.
[12]
Hamruni (2009)dalam Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran
Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 129
[14]
Wina Sanjaya(2007)dalam Suyadi. 2013. Strategi
Pembelajaran Pendidikan Berkarakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hal. 131
Tidak ada komentar:
Posting Komentar